Obat

Sirup Kering, Apakah Itu?

Bagi para orang tua, mungkin Anda pernah menebus resep antibiotik untuk anak Anda yang masih kecil. Saat di rumah, Anda tersadar botol itu sudah dibuka dari segelnya. Mungkin Anda merasa kesal karena Anda merasa diberi obat yang tidak baru. Jangan kesal dulu ya, botol obat itu memang telah dibuka, tapi itu adalah obat baru. Mungkin Anda bertanya lagi, "Kalau memang obat baru kenapa telah dibuka?". Baiklah, begini jawaban dan penjelasannya.

Obat yang Anda beli itu adalah SIRUP KERING. Sirup kering itu dapat berupa suspensi kering atau larutan kering. Pada gambar contoh dalam artikel ini digunakan suspensi kering.

Obat yang ada di dalam botol itu awalnya adalah serbuk, saat obat akan diberikan pada pasien, ke dalam botol tersebut dimasukkan sejumlah tertentu air minum (lihat pada gambar, ada tanda panah yang menandakan batas air yang harus ditambahkan). Untuk memasukkan air minum ke dalam botol itu harus dengan membuka botol obatnya terlebih dahulu, bukan?

tanda batas penambahan air pada sirup kering
lihat tanda panah yang menunjukkan tanda batas penambahan air minum

Berikut gambar sirup kering yang sudah dilarutkan, atau istilah yang lebih tepatnya adalah sudah direkonstitusi.

sirup kering setelah ditambahkan air

"Kenapa obatnya berbentuk serbuk, kenapa tidak langsung dibuat cairan saja? Kan banyak obat-obat sirup yang bentuknya bukan serbuk?"

Obat-obat yang dibuat dalam bentuk sirup kering umumnya termasuk antibiotik dan sebagian besar  antibiotik tidak stabil berada lama dalam air. Sirup kering yang sudah ditambahkan air biasanya hanya bertahan selama kurang lebih 7 hari saja. Beberapa jenis lainnya dapat bertahan hingga 14 hari, itu pun jika disimpan dalam lemari es. Oleh karena itu, sirup antibiotik tidak memungkinkan untuk disimpan dalam waktu lama. Solusi yang digunakan adalah dengan membuat sirup antibiotik baru pada saat akan dikonsumsi oleh pasien.

"Oo, pantas saja saya disuruh membuang obat ini kalau masih ada sisanya 7 hari setelah saya beli obat ini."

Betul, setelah 7 hari obat ini berada dalam air mungkin obat itu telah rusak dan mungkin dapat menyebabkan efek yang tidak diinginkan, jadi harus dibuang.

Bagaimana cara membuang obat yang baik? Untuk sirup kering, obat yang tersisa dapat dibuang setelah diencerkan dengan air yang ditambahkan sejumlah "sampah", misalnya ampas kopi, tanah, atau pasir. Jangan lupa juga untuk merobek label obat dan merusak botolnya (jika dikemas dalam botol plastik). Dengan demikian, sisa obat atau kemasannya tidak dapat disalahgunakan lagi oleh orang yang menemukannya.

Semoga penjelasan singkat ini bisa memberi pengetahuan yang baru untuk Anda.

(Penulis merupakan kontributor tamu di SerambiSehat.com, artikel asli dan tulisan lainnya dapat di akses di blog pribadinya disini*)

* http://rosadora.blogspot.com

penulis: 

Informasi Obat

Obat punya identitas lho, ada komposisi, indikasi, kontraindikasi, efek samping, dan sebagainya. Anda tahu istilah-istilah itu? Kenali identitas obat yang tercantum dalam informasi obat agar Anda tidak salah minum obat.

Sebagai pasien, kita harus mengetahui obat yang kita konsumsi. Sehingga konsumsi obat kita tepat tujuan penggunaan dan mencegah efek negatif yang mungkin terjadi karena kesalahan pemakaian obat. Setiap kemasan produk mencantumkan informasi obat yang tertera di kemasannya. Jika membeli obat resep di apotek atau RS, informasi bisa didapatkan secara lisan melalui apoteker (karena di apotek atau rumah sakit, brosur asli dari industri biasanya tidak diberikan ke pasien). Sedangkan untuk obat bebas atau obat bebas terbatas, kita dapat mengetahui sendiri informasi tersebut. Biasanya informasi obat terdapat dalam kemasan aslinya, misal dalam kemasan satu catch cover tablet  atau satu botol sirup.

Beberapa informasi yang biasanya terdapat dalam kemasan obat adalah sebagai berikut:

Komposisi
Zat aktif yang terkandung dalam obat.
Contoh: Obat A, tiap tablet mengandung Famotidine 20 mg. Jadi zat aktif obat A tersebut adalah Famotidine sejumlah 20 mg dalam tiap tabletnya.

Indikasi
Indikasi adalah kegunaan suatu obat pada kondisi penyakit tertentu.
Misalnya, obat Ibuprofen yang merupakan obat penghilang nyeri (analgesik) golongan AINS (Anti Inflamasi Non Steroid)  diindikasikan untuk:
-  Nyeri dan radang pada penyakit reumatik dan gangguan otot skelet lainnya
-  Nyeri ringan sampai berat termasuk dismenorea dan analgesik paskabedah;
-  Nyeri dan demam pada anak-anak

Kontraindikasi
Kontraindikasi adalah keadaan yang tidak memperbolehkan suatu obat digunakan oleh seorang pasien.
Saat anda memerlukan analgesik padahal anda menderita tukak lambung, jangan memilih aspirin sebagai obat karena aspirin dikontraindikasikan untuk pasien yang memiliki tukak lambung.

Peringatan atau Perhatian
Pemakaian suatu obat harus dilakukan secara hati-hati pada kondisi tertentu karena dapat terjadi efek atau keadaan yang tidak diinginkan oleh pasien. Misalnya, peringatan pemakaian pada kondisi pasien gagal ginjal, hamil atau menyusui atau riwayat alergi. Selain itu, termasuk peringatan pemakaian obat secara bersamaan atau simultan dengan obat lain.

Efek Samping
Hampir setiap obat memiliki banyak efek pada tubuh kita. Selain efek utama yang dimanfaatkan, juga terdapat efek samping yang mungkin timbul. Efek Samping  tidak selalu timbul pada setiap pasien. Pada penggunaan teofilina, pasien sering mengalami jantung berdebar atau takikardia sebagai efek samping. Efek samping tersebut perlu diketahui agar pengobatan tidak serta merta dihentikan karena ketidaknyamanan akibat efek samping.

Interaksi Obat
Penggunaan bersamaan atau berurutan dua obat atau lebih dapat menimbulkan interaksi sehingga memberikan efek klinis yang berbeda. Jika Anda sedang mengkonsumsi obat lain, suplemen makanan maupun herbal, perhatikan interaksi yang mungkin terjadi. Sebaiknya, informasikan pula kepada apoteker atau dokter anda. Contoh penggunaan bersama antara pseudoefedrin yang biasanya terdapat dalam obat flu dengan obat golongan penghambat MAO (biasa digunakan untuk obat depresi atau parkinson) dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah.

Dosis dan petunjuk pemakaian
Perhatikan dan patuhi cara pemakaian, jumlah dan waktu pemakaian suatu obat.

Penyimpanan
Efek suatu obat juga berkaitan dengan kualitas obat. Sesuaikan cara penyimpanan obat dengan petunjuk penyimpanan agar obat tetap dalam kondisi yang baik.

Informasi suatu obat dapat berubah waktu ke waktu. Oleh karena itu penting untuk membaca kemasan setiap akan mengkonsumsi obat.

penulis: 
referensi: 

- http://www.fda.gov/Drugs/ResourcesForYou/Consumers/default.htm
- http://bnf.org/bnf/index.htm
- ISO Indonesia : informasi spesialite obat Indonesia, Jakarta: Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia

BUMIL Dan BUSU

Mual, muntah, migrain, konstipasi adalah gejala yang sering dirasakan oleh Ibu Hamil (Bumil) dan Ibu Menyusui (Busu). Ibu menimbang antara rasa sakit dan ketakutan terjadi sesuatu pada buah hati. Apa yang harus dilakukan pada saat gejala-gejala tersebut terasa?

Selamat! Anda akan jadi Ibu! Ucapan itu tentu membuat hati riang dan mata berbinar, tak sabar menunggu menit-menit pertumbuhan makhluk mungil di dalam rahim Anda. Namun, awal-awal penantian ini tak jarang harus dilewati dengan penuh perjuangan, mulai dari mual, hingga muntah dan migrain. Mengapa gejala-gejala itu terjadi dan bagaimanakah cara mengatasinya? Berikut ulasan singkatnya.

 

 

 

1. Mual
Ibu hamil umumnya mulai merasakan mual pada minggu keenam kehamilan. Rasa mual ini kemungkinan terjadi akibat peningkatan konsentrasi hormon dalam darah (estrogen, progesteron, human chorionic gonadotropin, dan hormon tiroid), perubahan fungsi sistem saraf yang menyebabkan gangguan pencernaan, ataupun faktor lingkungan. Gejala mual dan muntah ini sering disebut morning sickness, meskipun dalam kenyataannya dapat terjadi sepanjang hari. Namun tenang saja, rasa mual ini akan menyurut saat kehamilan telah menginjak usia 12-18 minggu. Tidak tahan menunggu selama itu? Sebelum berpikir tentang obat, Anda sebaiknya mengatur pola makan dan gaya hidup keseharian Anda. Daripada porsi besar dalam sekali makan, cobalah makan dalam porsi kecil namun sering disertai dengan suplemen yang mengandung vitamin B kompleks. Selain itu, hindari kafein dan makanan berlemak yang dapat memicu kembali rasa mual. Terapi akupunktur dan akupresur ringan juga diketahui dapat mengurangi timbulnya gejala khas kehamilan ini. Jika cara ini belum juga membantu, antihistamin seperti dimenhidrinat (Antimo, Antimab) terbukti dapat mengatasi mual dan tidak ditemukan bersifat toksik untuk ibu hamil. Pendekatan herbal pun tak kalah ampuh, seduhan jahe hangat dengan kandungan gingerolnya sebagai antimual dapat juga Anda coba.

2. Sakit Kepala
Sakit kepala yang dialami wanita hamil dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok yaitu migrain, tension headache (nyeri kepala tipe tegang, NKTT), dan sakit kepala sekunder akibat penyakit lain. Migrain terjadi pada 70% ibu hamil, dan umumnya muncul pada awal serta akhir kehamilan menjelang kelahiran. Peningkatan konsentrasi hormon lagi-lagi diduga sebagai penyebabnya. Penderita NKTT umumnya lebih kesusahan saat hamil, karena gejalanya lebih meradang. Pada migrain dan NKTT yang tidak tertahankan, asetaminofen (Panadol, Pamol, Sanmol) menjadi pilihan bagi bumil. Namun sebelumnya, usahakan Anda dapat berolahraga ringan, misalnya yoga, untuk melemaskan otot-otot sekitar leher, terutama untuk NKTT yang lebih disebabkan karena faktor psikologis dan ketegangan saraf.

3. Konstipasi
Para ibu hamil sering mengalami kesulitan buang air besar (konstipasi) terutama saat awal kehamilan. Hal ini dapat terjadi antara lain karena perubahan pola makan, asupan cairan, serta transit hasil pencernaan yang lebih lama di usus akibat perubahan hormonal. Jangan segera melirik obat, karena perubahan gaya hidup sang ibu sudah dapat mengatasinya. Tambahan asupan cairan dan serat ditambah dengan aktivitas fisik ringan dapat memperlancar BAB. Suplemen serat dapat ditambahkan jika ibu sulit beraktivitas. Jika kondisi ini berlanjut, bisakodil (Dulcolax, Stolax) dianjurkan sebagai obat pilihan, terutama dalam bentuk supositoria. Namun, penanganan dengan obat untuk mencegah konstipasi sebaiknya tidak dilakukan secara rutin.

Bagaimana dengan ibu menyusui? Secara umum, meskipun sebagian besar obat akan terdistribusi ke air susu, hanya pada kondisi tertentu saja sang ibu diharuskan berhenti menyusui. Para ibu lebih baik memilih obat yang aman daripada menghentikan ASI bagi bayinya. Untuk obat yang diminum sekali sehari, ibu sebaiknya mengkonsumsinya sebelum tidur karena rentang antar waktu menyusui lebih panjang di waktu malam. Untuk obat yang diminum lebih dari sekali sehari, ibu dapat meminumnya segera setelah jadwal menyusui untuk memperpanjang jarak antara minum obat dengan jadwal menyusui berikutnya.

Jadi, jangan khawatir lagi atas serangan gejala yang tidak diinginkan, ada obat yang dapat Anda pilih dalam masa kehamilan maupun menyusui. Namun jangan lupa, selalu konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau apoteker untuk memperoleh obat yang aman dengan informasi yang lengkap untuk Anda.

penulis: 

Obat Sariawan yang Tidak Perih

Saya seorang Ibu yang sedang mencari tahu obat sariawan apa yang tidak perih?

TanyaSaya seorang Ibu yang sedang mencari tahu obat sariawan apa yang tidak perih?JawabBanyak sediaan yang terdapat di pasaran untuk mengatasi sariawan. Zat-zat tersebut diantaranya termasuk dalam kategori anti jamur, antibakteri, antiseptik, antiinflamasi, kortikosteroid, anastetik, dan zat pelapis mukosa.Lalu, yang mana yang tidak menimbulkan rasa perih?Sebenarnya, tingkat keperihan pengobatan tergantung pada ketahanan penderita. Hal ini berbeda untuk masing-masing penderita. Umumnya, luka terbuka seperti sariawan akan terasa perih apabila bersentuhan dengan zat asing.Zat anti jamur seperti gentian violet atau beberapa kortikosteroid berbentuk salep tidak begitu menyebabkan rasa sakit. Namun obat lain seperti antiseptik policresulen yang banyak digunakan untuk mengobati sariawan, memang menyebabkan rasa sakit yang cukup intens, walaupun hanya sebentar, tergantung dari kondisi penderita.Hal yang lebih penting untuk ditekankan dalam proses pengobatan adalah pilih obat sariawan sesuai penyebab sariawan Anda. Beberapa obat sariawan yang tidak menyebabkan rasa perih membutuhkan pengawasan dokter dalam penggunaannya karena merupakan golongan obat keras.

penulis: 

Levofloxacin dan Cefdinir VS Obat Dismenorrea

Saya batuk-batuk selama hampir 2 minggu, kemudian dokter meresepkan Levofloxacin dan Cefdinir. Dokter bilang sebaiknya jangan minum obat lain pada saat pengobatan, karena bisa mengganggu efek obat yang diresepkan. Kemudian saya mengalami dismenorea bulanan, biasanya saya mengkonsumsi Parasetamol untuk meredakan nyerinya?

Pertanyaan:Saya batuk-batuk selama hampir 2 minggu, kemudian dokter meresepkan Levofloxacin dan Cefdinir. Dokter bilang sebaiknya jangan minum obat lain pada saat pengobatan, karena bisa mengganggu efek obat yang diresepkan. Kemudian saya mengalami dismenorea bulanan, biasanya saya mengkonsumsi Parasetamol untuk meredakan nyerinya. Dalam kondisi pengobatan dengan antibiotik tadi, obat apakah yang dapat saya konsumsi tanpa mengganggu efek obat sebelumnya?(DP, 24 tahun, Bandung)
 
 
Rasa nyeri yang secara normal berhubungan dengan siklus menstruasi dapat diatasi dengan analgesik atau penghilang nyeri. Obat Antiiflamasi non steroid (AINS) seperti Asam Mefenamat dan Ibuprofen merupakan obat pilihan utama pada kasus dismenorea primer. Tetapi pada kasus ini, Obat AINS tidak dapat digunakan karena berinteraksi dengan Levofloxacin dan Cefdinir yang sedang dikonsumsi oleh Ibu DP. Penggunaan bersama  obat AINS dengan Levofloxacin dapat meningkatkan resiko stimulasi sistem saraf pusat dan  kejang-kejang. Sedangkan obat AINS berinteraksi dengan Cefdinir menyebabkan peningkatan resiko pendarahan pada pasien.Oleh karena itu, pada kasus Ibu DP konsumsi Parasetamol sudah tepat karena Parasetamol memiliki efek analgesik dan tidak memiliki interaksi dengan Levofloxacin ataupun Cefdinir.

penulis: 
referensi: 

1. Dipiro, J.T., Pharmacotherapy a Pathophysiologic Approach Fifth Edition, 2002, hal 14702. AHFS Drug Information, hal 150, 788

Obat: Ditelan, Dioleskan, atau Dilarutkan?

Jika Anda perhatikan, obat memilliki berbagai bentuk. Bentuk obat yang bermacam-macam juga membutuhkan penyesuaian dalam penggunaannya. Ada kisah pasien penderita wasir yang memakan supositoria. Apa akibatnya?

Jika Anda perhatikan, obat memilliki berbagai bentuk. Umumnya obat berbentuk zat padat yaitu tablet, kapsul, sirup kering, serbuk injeksi, dan suppositoria. Obat bentuk tablet pun dibagi lagi menjadi tablet konvensional, effervesent, dan tablet salut, baik itu salut gula, film, maupun enterik. Tablet salut ini dibuat bertujuan untuk mengurangi kekurangan sifat zat aktif, misalnya untuk menutupi rasa pahit atau untuk melindungi hidrolisis zat aktif dari asam lambung. Selain itu, obat bisa berbentuk cairan seperti sirup, injeksi, infus, dan tetes mata. Bentuk lain obat adalah setengah padat atau semisolid yaitu krim, salep, dan gel, yang biasanya digunakan sebagai obat luar. Anda juga dapat menjumpai obat dalam bentuk aerosol, contohnya obat untuk penyakit asma.Teknologi farmasi mengembangkan berbagai jenis bentuk obat disesuaikan dengan sifat zat aktif, tujuan penggunaan, dan kenyamanan pasien. Bentuk obat yang bermacam-macam juga membutuhkan penyesuaian dalam penggunaannya. Apapun bentuk obat yang Anda terima, pastikan Anda mengetahui cara penggunaannya. Sebuah kisah tentang kesalahan cara penggunaan obat terjadi pada seorang pasien penderita wasir. Pasien tersebut memakan supositoria yang seharusnya dimasukkan ke anus. Anda dapat membayangkan, pasien tersebut akan tetap mengeluh sakit wasir bahkan beresiko keracunan obat.Sebagian besar obat berbentuk tablet dan dikonsumsi dengan cara di telan. Walaupun demikian, ada berbagai jenis tablet obat tertentu seperti Antasid (obat sakit maag) harus kita kunyah terlebih dahulu agar obat bisa bereaksi langsung di lambung. Adapula Tablet dispersibel, tablet ini harus dilarutkan terlebih dahulu di air. Beberapa multivitamin yang dijual di pasaran berbentuk tablet effervescent, yaitu tablet yang dimasukkan ke dalam air sehingga larut dan menghasilkan gas.Jika Anda mengalami kesulitan menelan tablet atau kapsul yang diresepkan untuk Anda, informasikan kepada dokter atau apoteker Anda. Sehingga, mereka dapat memberikan solusi untuk kenyamanan Anda, misalnya dengan mengganti bentuk sediaan dari tablet menjadi sirup. Jangan coba-coba menggerus beberapa jenis tablet seperti tablet salut gula, tablet salut film atau tablet salut enterik, karena justru dapat merusak kandungan zat aktif, menurunkan efek obat, bahkan menimbulkan efek samping. Hal ini juga berlaku untuk sediaan kapsul, sebaiknya jangan melepaskan cangkang kapsul ketika sulit menelan kapsul.Lebih lengkapnya tentang cara penggunaan obat dalam bentuk lain, Anda dapat membaca leaflet informasi obat Anda atau bertanya pada apoteker di apotek langganan Anda  Sebagai pasien, sebaiknya selalu bersikap ”Teliti Sebelum Konsumsi”.

penulis: 
referensi: 

Remington, The Science and Practice of Pharmacy 21st Edition, 2006

Obat, Diminum Sebelum atau Sesudah Makan?

Waktu untuk meminum obat penting untuk diperhatikan, karena obat memiliki sifat dan tujuan penggunaan masing-masing. Kesalahan waktu minum obat dapat berakibat tujuan penggunaan tidak tercapai bahkan menyebabkan efek samping baru. Apakah Anda termasuk orang yang mempunyai anggapan waktu minum obat adalah sesudah makan? Apa ada obat yang diminum sebelum atau saat makan?

Sebagian besar orang beranggapan bahwa waktu minum obat adalah sesudah makan. Apakah Anda termasuk orang yang mempunyai anggapan seperti itu? Jika ya, maka mulai saat ini Anda harus meninggalkan anggapan itu secepatnya. Persepsi yang salah seperti itu sering kali terjadi pada orang-orang awam yang memang hanya tahu kalau minum obat harus sesudah makan. Padahal, tidak semua obat diminum sesudah makan, tentunya persepsi seperti itu akan merugikan pasien dan bisa menyebabkan keberhasilan terapi akan terhambat.Untuk sebagian obat, kondisi saluran cerna berkaitan erat dengan kesuksesan terapi. Jadi, ada obat yang sebaiknya diminum 1 jam sesudah makan, pada saat makan ataupun 2 jam setelah makan. Waktu untuk meminum obat penting untuk diperhatikan, karena obat memiliki sifat dan tujuan penggunaan masing-masing. Kesalahan waktu minum obat dapat berakibat tujuan penggunaan tidak tercapai bahkan menyebabkan efek samping baru.Penyerapan obat dapat berkurang oleh makanan yang ada di dalam saluran cerna, sehingga efeknya dapat menurun. Sebagai contoh, beberapa antibiotik seperti tetrasiklin, kloramfenikol dan azitromisin sebaiknya diminum pada saat 1 jam sebelum makan atau 2 jam sesudah makan sehingga mencegah interaksi dengan makanan dan meningkatkan penyerapannya. Jika diminum bersama makanan, kadar obat yang masuk ke dalam darah dapat berkurang sehingga efek obat yang diharapkan tidak tercapai, dapat terjadi resistensi bakteri, dan penyakit yang diderita tidak akan sembuh.Kondisi lambung yang kosong, dengan asam lambung tinggi juga dapat menyebabkan obat terurai dan menurunkan khasiat atau bahkan bisa  menyebabkan perut menjadi perih akibat iritasi lambung. Obat-obat analgesik, AINS (anti inflamasi non steroidal), dan kortikosteroid oral mempunyai efek samping mengiritasi lambung sehinggal harus diminum segera setelah makan.Berkaitan dengan tujuan penggunaannya, antasida yang berfungsi untuk menetralkan asam lambung dapat diminum 15 menit sebelum makan atau 2 jam setelah makan. Obat-obat diabetes seperti glibenklamid dan glipizid yang diharapkan bekerja pada saat makan sebaiknya diminum sekitar 30 menit sebelum makan. Adapun golongan pencahar seperti minyak jarak sebaiknya diminum pagi-pagi pada saat perut kosong.Karena waktu penggunaan yang berbeda untuk tiap obat, maka mintalah saran kepada apoteker atau petugas kesehatan lain saat Anda membeli obat.

penulis: 
referensi: 

The Medication Teaching Manual: The Guide to Patient Drug Information, 1994, American Society of Hospital Pharmacist

Cinta Boleh Palsu, Asal Jangan Obat

Obat palsu, sebuah fenomena yang tak jarang diperdengarkan di media massa di negeri yang rakyatnya memiliki kesaktian luar biasa dalam melakukan ‘mimikri'. Pemalsuan obat dapat terjadi pada obat generik dan obat paten, baik itu berupa kemasan yang palsu (dengan nomor registrasi yang tidak sesuai), komposisi yang salah, tidak terkandungnya zat aktif, ataupun obat dengan jumlah zat aktif di bawah spesifikasi.

Obat palsu, sebuah fenomena yang tak jarang diperdengarkan di media massa di negeri yang rakyatnya memiliki kesaktian luar biasa dalam melakukan ‘mimikri’, dari telepon seluler hingga cendol Elizabeth. Tentu saja, hanya hak patenlah yang berbicara jika pemalsuan tersebut tidak memberikan efek yang merugikan bagi masyarakat. Namun, dalam hal obat, sebagai zat yang diharapkan menyembuhkan penyakit dan meningkatkan kualitas hidup penggunanya, pemalsuannya tentu perlu diwaspadai.Sesuai definisi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), obat palsu merupakan bagian dari produk substandar, yaitu produk yang komposisinya tidak memenuhi spesifikasi saintifik yang ditentukan dan oleh karenanya tidak efektif atau bahkan bersifat toksik terhadap pasien. Pemalsuan obat dapat terjadi pada obat generik dan obat paten, baik itu berupa kemasan yang palsu (dengan nomor registrasi yang tidak sesuai), komposisi yang salah, tidak terkandungnya zat aktif, ataupun obat dengan jumlah zat aktif di bawah spesifikasi.Di negara-negara yang lebih makmur, obat yang paling banyak dipalsukan biasanya obat-obat yang terkait dengan gaya hidup, misalnya hormon, steroid, dan antihistamin. Sedangkan di negara-negara berkembang, obat-obat penyelamatlah yang umumnya dipalsukan, seperti obat malaria, tuberkulosis, dan HIV/AIDS. Saat ini, di seluruh dunia diperkirakan lebih dari 10% (bahkan lebih dari 25% di negara berkembang) obat yang beredar merupakan obat palsu.Menjamurnya peredaran obat palsu ini membahayakan pasien sebagai konsumen, hingga berbagai upaya pun dilakukan oleh badan pengawasan obat negara-negara di dunia dalam memeranginya. Pemerintah Ghana, melalui program MPedigree, menyediakan layanan SMS gratis yang memungkinkan rakyatnya memperoleh obat-obatan yang terjamin mutunya. Pengguna obat dapat mengirimkan nomor registrasi yang tercantum pada kemasan obat ke nomor layanan pemerintah kemudian akan ada pesan balasan yang menyatakan jaminan mutu obat tersebut. Hebatnya, layanan ini gratis, tidak dipungut biaya, dan dapat digunakan pada telepon seluler tanpa pulsa.Lain benua, lain teknologi. Profesor Tony Moffat dari School of Pharmacy, University of London, telah mengembangkan teknologi portabel berbasis spektroskopi inframerah yang dapat digunakan untuk menguji keaslian obat dengan cepat dan relatif ekonomis. Teknologi ini memanfaatkan absorpsi sinar inframerah daerah dekat (800-2500 nm) yang akan menunjukkan pola ‘sidik jari’ yang spesifik untuk setiap zat dengan menggunakan produk standar sebagai pembanding. Sebagai uji coba perdana, Moffat membeli obat disfungsi ereksi di internet secara acak dan menemukan bahwa 4 dari 9 produk merupakan obat palsu. Moffat kemudian berhasil mengujikan teknologinya di Badan Pengawasan Obat dan Makanan di Korea yang hasilnya dipublikasikan dalam Journal of Near Infrared Spectroscopy. Bagi aparat Badan Pengawasan Obat setiap negara, teknologi Prof. Moffat yang cepat dan ekonomis ini tentu akan memudahkan tugas mereka sebagai polisi lalu-lintas obat, kapan ya giliran Indonesia? Hopefully soon, Prof.!

penulis: 
referensi: 
Syndicate content