susu

Heboh Melamin dalam Susu dan Wadah Makanan

3
Your rating: None Average: 3 (2 votes)

Akhir tahun 2008, Badan POM menemukan melamin dalam produk susu impor. Sedangkan pada bulan Juni ini, ada Public Warning tentang peralatan makan bermelamin palsu. Melamin dalam susu atau melamin palsu sama berbahaya, seperti apakah keduanya bekerja mengancam kesehatan manusia?

Setelah sempat menjadi bahan pembicaraan pada akhir tahun 2008, di pertengahan tahun 2009 berita tentang melamin kembali menghangat. Jika pada akhir tahun 2008 masyarakat digemparkan oleh pemberitaan tentang susu yang bercampur dengan melamin, maka di pertengahan tahun 2009 masyarakat kembali digemparkan dengan ditariknya sejumlah peralatan makan melamin yang menghasilkan residu formalin.

Melamin biasa ditemui pada plastik, lem, papan tulis (whiteboard), peralatan makan dan minum, dan lainnya. Melamin yang lazim dipakai untuk membuat peralatan makan merupakan polimer yang terbentuk dari reaksi antara senyawa fenol dan formaldehid. Dalam bentuk melamin, sifat racun formaldehid akan hilang. Formaldehid akan terbentuk kembali dan terlepas dari bentuk polimer melamin apabila terjadi reaksi depolimerisasi (pemecahan rantai polimer) pada melamin akibat paparan panas, sinar ultraviolet, gesekan, atau tergerusnya permukaan melamin. Sedangkan tiruannya, atau dikenal sebagai melamin palsu merupakan hasil persenyawaan urea dan formaldehid. Urea adalah bahan dasar dalam pembuatan pupuk dan karena strukturnya, melamin yang terbuat dari urea dan formaldehid kualitasnya tidak sebaik melamin asli dan juga berbahaya bagi kesehatan. Penambahan melamin kedalam makanan tidak disetujui oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), salah satunya karena bahaya pelepasan senyawa dari melamin yang dapat membahayakan kesehatan.

Melamin Dalam Susu
Produk susu yang mengandung melamin sebagian besar diimpor dari Cina. Di negara ini, terdapat produsen susu yang melakukan pengolahan susu murni dengan menambahkan air dengan tujuan menambah volume susu murni. Pengenceran susu murni dengan penambahan air dapat mengakibatkan penurunan konsentrasi protein dalam susu. Susu yang sudah dicampur dengan air ini selanjutnya diolah menjadi produk lain seperti susu formula untuk anak-anak. Konsentrasi protein dalam susu biasa diukur berdasarkan kadar Nitrogen yang terkandung dalam susu tersebut. Sehingga, untuk menggantikan kadar protein yang turun akibat pencampuran air, ditambahkan zat lain yang mengandung Nitrogen, seperti melamin, kedalam susu.

Efek melamin secara langsung terhadap manusia belum diketahui, tetapi penelitian terhadap hewan telah dilakukan. Pada penelitian ini, diamati efek melamin terhadap hewan dengan pemberian makanan hewan mengandung melamin. Hasil penelitian terhadap hewan menunjukkan bahwa melamin berpotensi menyebabkan timbulnya batu pada saluran kemih, dan bila ditambahkan asam sianurik, yang juga terbukti ditemukan dalam makanan hewan tersebut, dapat menimbulkan batu ginjal. Akibatnya adalah menghentikan produksi urin, gagal ginjal, dan kematian.

Gejala keracunan melamin diantaranya adalah darah pada urin, penurunan produksi urin atau bahkan berhenti sama sekali, ataupun infeksi ginjal dan tekanan darah tinggi. Mengingat infeksi ginjal dan tekanan darah tinggi tidak hanya merupakan efek dari keracunan melamin, maka apabila Anda mengalami gejala-gejala tersebut, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu kepada dokter. Di Indonesia sendiri, berdasarkan Keterangan Pers Badan Pengawasan Obat dan Makanan  (BPOM) tanggal 27 September 2008 menjelaskan bahwa terdapat 6 produk mengandung susu yang diimpor dari Cina yang ditemukan positif mengandung melamin dan 6 produk ilegal lainnya dari Cina yang juga mengandung melamin. Keterangan Pers BPOM tanggal 27 September 2008 ini memperbaharui Keterangan Pers Badan POM tanggal 24 September 2008 yang menjelaskan bahwa produk susu formula bayi dan produk susu olahan yang terdapat di Indonesia aman untuk dikonsumsi. Untuk mengatasi kemungkinan masuknya susu formula bermelamin, BPOM juga melakukan pemeriksaan terhadap sarana-sarana distribusi produk susu di Indonesia.

Peralatan Makan Melamin
Selain digunakan pada lem, plastik, papan tulis, dan bahkan susu, melamin juga sering digunakan sebagai bahan baku pembuatan peralatan makan. Peralatan makan dari melamin sering digunakan orang karena beberapa kelebihan antara lain faktor kepraktisan. Peralatan makan yang terbuat dari melamin cenderung lebih tahan pecah dibandingkan dengan piring makan atau gelas yang terbuat dari kaca. Selain itu, bahan melamin juga relatif lebih tahan panas dibanding plastik.

Sebenarnya melamin dalam peralatan makan tidak berbahaya jika melamin yang dipakai adalah melamin asli dan perawatannya sesuai (contohnya tidak menggores permukaan). Tetapi, banyak juga pedagang nakal yang tidak menjual peralatan makan dari melamin asli, melainkan melamin palsu yang merupakan hasil persenyawaan urea dan formaldehid. Sifat melamin palsu ini memang mirip dengan melamin asli dan bila dilihat langsung tidak berbeda banyak. Namun, bila dilihat dari struktur kimianya, senyawa melamin palsu ini lebih rentan terhadap faktor-faktor yang dapat menyebabkan pelepasan senyawa dari melamin. Sehingga, saat misalnya terpapar panas, melamin palsu akan menyebabkan pembebasan formaldehid dari alat makan. Hal ini tentunya berbahaya mengingat formaldehid adalah zat pembentuk formalin yang sering digunakan untuk mengawetkan mayat.

Untuk menjaga keamanan masyarakat terhadap ancaman melamin palsu, BPOM memeriksa puluhan produk melamin yang sering ditemui di pasaran. Hasil uji yang tertuang dalam Public Warning BPOM Nomor KH.00.01.1.23.2258 tanggal 1 Juni 2009, mencengangkan karena dari 60 sampel peralatan makan yang diuji, 32 di antaranya mengandung formalin. Menurut public warning yang sama, 30 jenis peralatan makan melamin yang melepaskan formalin berpotensi menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan bila digunakan untuk mewadahi makanan yang berair atau berasa asam, terlebih dalam keadaan panas. Oleh karena itu, berhati-hatilah selalu dalam memilih produk. Pilihlah produk yang terjamin mutunya demi menjaga kesehatan Anda dan keluarga. Salam Sehat!

penulis: 
referensi: 
  1. Food Drug Administration Website, Melamine Pet Food Recall, Updated August 1, 2007 http://www.fda.gov/AnimalVeterinary/SafetyHealth/RecallsWithdrawals/ucm129932.htm
  2. US Centers for Disease Control and Prevention Website, Melamine in Food Products Manufactured in China, http://emergency.cdc.gov/agent/melamine/chinafood.asp
  3. WHO website, Expert Meeting to Review Toxicological Aspects of Melamine and Cyanuric Acid, 1-4 December 2008, Updated 16 April 2009 http://www.who.int/foodsafety/fs_management/infosan_events/en/index2.html
  4. Peringatan/Public Warning Tentang Peralatan Makan Melamin Nomor: KH.00.01.1.23.2258 Tanggal 1 Juni 2009 http://www.pom.go.id
  5. Keterangan Pers Tentang Kandungan Melamin Produk Cina Yang Mengandung Susu No : KH. 00.01.5.533 Tanggal 27 September 2008 http://www.pom.go.id

Diare setelah Minum Susu, Alergi atau Bukan?

3
Your rating: None Average: 3 (1 vote)

Setelah Anda minum susu kemudian perut menjadi mulas, banyak membuang gas, serta diare. Jangan menolak mengkonsumsi susu karena kemungkinan Anda hanya mengalami keadaan yang disebut Intoleransi laktosa.

Sebagian orang menolak untuk mengkonsumsi susu sapi karena setelah minum perut menjadi mulas, banyak membuang gas, serta diare. Mereka beranggapan bahwa mereka alergi dengan susu. Benarkah seperti itu?

Alergi atau tidak, hal tersebut dapat ditanyakan lebih lanjut apakah gejala tersebut timbul sejak mereka masih kecil. Apabila ya, maka kemungkinan besar hal tersebut memang alergi. Jika saat kecil mereka masih sering mengkonsumsi susu, maka gejala tersebut bukan gejala alergi. Gejala tersebut merupakan salah satu gejala yang terjadi akibat intoleransi laktosa.

Intoleransi laktosa bukanlah bentuk alergi terhadap laktosa atau susu atau produk-produk olahannya. Intoleransi laktosa merupakan suatu keadaan dimana tubuh tidak dapat mencerna laktosa, bentuk gula yang terdapat dalam susu dan produk-produk olahannya. Ketidakmampuan mencerna laktosa ini disebabkan karena kekurangan enzim laktase pada tubuh. Sedangkan alergi (dalam hal ini pada susu) adalah suatu keadaan dimana ada senyawa kimia dalam susu (biasanya protein) dapat mencetuskan dan mengaktifkan sistem imun pada tubuh. Orang yang alergi pada suatu makanan harus menghindari makanan tersebut, namun orang yang hanya memiliki intoleransi makanan dapat mengkonsumsi makanan tersebut dalam jumlah yang tidak mengakibatkan reaksi apa-apa.

Gejala-gejala intoleransi laktosa timbul setelah 30 menit hingga 2 jam setelah mengkonsumsi susu dan produk olahannya, diantaranya yaitu:
1. perut kembung
2. sering membuang gas
3. kram perut
4. mual
5. mulas
6. diare

Sejalan dengan usia, tubuh manusia makin sedikit memproduksi enzim laktase. Oleh karena itu, sering gejala ini baru timbul pada saat dewasa.

Umumnya, intoleransi laktosa dapat diketahui oleh dokter dengan melihat riwayat kesehatan dari seseorang.  Cara yang mudah untuk mengetahui apakah seseorang memiliki intoleransi laktosa adalah dengan menghentikan konsumsi makanan yang mengandung laktosa selama dua minggu untuk melihat apakah gejalanya hilang. Setelah itu, konsumsi kembali makanan tersebut perlahan-lahan. Apabila gejalanya kembali berarti kemungkinan besar seseorang memiliki intoleransi laktosa. Akan tetapi serangkaian pengujian oleh dokter perlu juga dilakukan untuk membuktikan diagnosis tersebut.

Dengan mempertimbangkan kandungan gizi dalam susu yang cukup lengkap, orang dengan intoleransi laktosa sebaiknya tidak menghentikan konsumsi susu sama sekali. Mereka dapat mengkonsumsi produk susu yang rendah laktosa, misalnya yoghurt atau keju. Selain itu, coba juga mengkonsumsi susu bersama dengan makanan padat lain untuk memperlambat waktu cerna sehingga tubuh dapat menyerap laktosa dengan lebih mudah.

penulis: 
referensi: 
Syndicate content