Obat punya identitas lho, ada komposisi, indikasi, kontraindikasi, efek samping, dan sebagainya. Anda tahu istilah-istilah itu? Kenali identitas obat yang tercantum dalam informasi obat agar Anda tidak salah minum obat.
Sebagai pasien, kita harus mengetahui obat yang kita konsumsi. Sehingga konsumsi obat kita tepat tujuan penggunaan dan mencegah efek negatif yang mungkin terjadi karena kesalahan pemakaian obat. Setiap kemasan produk mencantumkan informasi obat yang tertera di kemasannya. Jika membeli obat resep di apotek atau RS, informasi bisa didapatkan secara lisan melalui apoteker (karena di apotek atau rumah sakit, brosur asli dari industri biasanya tidak diberikan ke pasien). Sedangkan untuk obat bebas atau obat bebas terbatas, kita dapat mengetahui sendiri informasi tersebut. Biasanya informasi obat terdapat dalam kemasan aslinya, misal dalam kemasan satu catch cover tablet atau satu botol sirup.
Beberapa informasi yang biasanya terdapat dalam kemasan obat adalah sebagai berikut:
Komposisi
Zat aktif yang terkandung dalam obat.
Contoh: Obat A, tiap tablet mengandung Famotidine 20 mg. Jadi zat aktif obat A tersebut adalah Famotidine sejumlah 20 mg dalam tiap tabletnya.
Indikasi
Indikasi adalah kegunaan suatu obat pada kondisi penyakit tertentu.
Misalnya, obat Ibuprofen yang merupakan obat penghilang nyeri (analgesik) golongan AINS (Anti Inflamasi Non Steroid) diindikasikan untuk:
- Nyeri dan radang pada penyakit reumatik dan gangguan otot skelet lainnya
- Nyeri ringan sampai berat termasuk dismenorea dan analgesik paskabedah;
- Nyeri dan demam pada anak-anak
Kontraindikasi
Kontraindikasi adalah keadaan yang tidak memperbolehkan suatu obat digunakan oleh seorang pasien.
Saat anda memerlukan analgesik padahal anda menderita tukak lambung, jangan memilih aspirin sebagai obat karena aspirin dikontraindikasikan untuk pasien yang memiliki tukak lambung.
Peringatan atau Perhatian
Pemakaian suatu obat harus dilakukan secara hati-hati pada kondisi tertentu karena dapat terjadi efek atau keadaan yang tidak diinginkan oleh pasien. Misalnya, peringatan pemakaian pada kondisi pasien gagal ginjal, hamil atau menyusui atau riwayat alergi. Selain itu, termasuk peringatan pemakaian obat secara bersamaan atau simultan dengan obat lain.
Efek Samping
Hampir setiap obat memiliki banyak efek pada tubuh kita. Selain efek utama yang dimanfaatkan, juga terdapat efek samping yang mungkin timbul. Efek Samping tidak selalu timbul pada setiap pasien. Pada penggunaan teofilina, pasien sering mengalami jantung berdebar atau takikardia sebagai efek samping. Efek samping tersebut perlu diketahui agar pengobatan tidak serta merta dihentikan karena ketidaknyamanan akibat efek samping.
Interaksi Obat
Penggunaan bersamaan atau berurutan dua obat atau lebih dapat menimbulkan interaksi sehingga memberikan efek klinis yang berbeda. Jika Anda sedang mengkonsumsi obat lain, suplemen makanan maupun herbal, perhatikan interaksi yang mungkin terjadi. Sebaiknya, informasikan pula kepada apoteker atau dokter anda. Contoh penggunaan bersama antara pseudoefedrin yang biasanya terdapat dalam obat flu dengan obat golongan penghambat MAO (biasa digunakan untuk obat depresi atau parkinson) dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah.
Dosis dan petunjuk pemakaian
Perhatikan dan patuhi cara pemakaian, jumlah dan waktu pemakaian suatu obat.
Penyimpanan
Efek suatu obat juga berkaitan dengan kualitas obat. Sesuaikan cara penyimpanan obat dengan petunjuk penyimpanan agar obat tetap dalam kondisi yang baik.
Informasi suatu obat dapat berubah waktu ke waktu. Oleh karena itu penting untuk membaca kemasan setiap akan mengkonsumsi obat.