Neurologi, Penyedia Senjata Baru Melawan Obesitas

07/09/2009 - 00:46
Umum
0
orang merekomendasikan

Solusi untuk penderita obesitas, yaitu orang dengan BMI lebih dari 30, tidak hanya melalui operasi gastric bypass. Ada sebuah alat baru yang dikembangkan neurolog yang dapat menjadi solusi untuk menurunkan berat badan. Seperti apakah alat itu?

 

Teknologi dibidang kesehatan semakin berkembang dari waktu ke waktu. Salah satu perkembangan itu terjadi pada cabang ilmu neurologi. Neurologi kontemporer ternyata dapat membawa manusia pada satu tahapan lagi, yaitu untuk mengobati obesitas. Kriteria obesitas” ditentukan berdasarkan BMI (Body Mass Index). BMI dihitung dengan cara membagi berat badan seseorang dalam kilogram  dengan pangkat dua dari tinggi badan orang tersebut dalam meter. Seseorang dengan BMI lebih dari 30 termasuk dalam kategori obesitas. Sementara itu, kategori ‘overweight’ merupakan seseorang dengan BMI pada kisaran 25-30. Perlu diketahui bahwa pada 1989, prevalensi obesitas di Indonesia adalah 1,1% untuk kota dan 0,7 % untuk desa. Angka tersebut meningkat hampir lima kali menjadi 5,3% untuk kota dan 4,3% untuk desa pada tahun 1999.

Metode dalam penanganan obesitas sendiri sampai saat ini adalah dengan mengurangi nafsu makan penderita. Nafsu makan ini dapat dikendalikan dengan cara khusus melalui metode operasi gastric bypass, yaitu pemotongan saluran usus dan mencegah rangsangan lapar terjadi pada usus. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2007 di Amerika Serikat terjadi peningkatan 2 kali lipat pengguna operasi ini dibandingkan pada tahun 2003. Namun, metode ini memiliki kelemahan, yaitu terjadinya reduksi ukuran usus, terbatasnya metode untuk orang yang memiliki BMI lebih besar dari 35 saja, resiko operasi yang tinggi, dan prosesnya yang irreversibel (apabila telah dilakukan pemotongan usus tidak akan dapat dilakukan kembali proses penyambungan usus).

Oleh karena itu, neurologi menjawab kekurangan – kekurangan dari metode ini dengan menggunakan alat yang secara khusus mengatur rangsang rasa lapar dari perut. Pada penerapan teknisnya, dua elektroda kecil diimplan ke dekat syaraf pencernaan di perut sang penderita. Sebuah regulator dari alat tersebut diimplan di bawah kulit, dimana regulator ini akan mengirimkan sinyal elektronik  frekuensi tinggi ke elektroda  yang diperkirakan dapat memblok sinyal rasa lapar dari syaraf ini ke otak.  Cara kerja dari alat ini belum diketahui pasti, namun salah satu hipotesis  adalah bahwa dengan metode ini,  sinyal elektronik akan memblok impuls saraf sehingga lambung tidak dapat terus mengembang serta mengeluarkan enzim – enzim pencernaan. Akibatnya, perut pasien akan terus terasa penuh.

Walaupun sampai saat ini metode tersebut belum dapat diketahui cara kerjanya, namun terbukti bahwa 30% dari pasien–pasien yang diobati dengan metode ini mengalami penurunan berat badan secara berarti setelah 9 bulan penggunaan alat. Sampai sekarang penelitian masih terus  dikembangkan untuk menyelidiki cara kerja yang pasti dari metode ini. Perusahaan pengembang alat ini, Enteromedics, sedang melakukan uji klinis kepada 300 pasien di Amerika dan Australia dengan menggunakan plasebo kontrol (dilakukan perbandingan dengan pasien yang tidak menggunakan alat).

Mari berharap untuk penanganan obesitas yang lebih tepat, akurat, mudah, dan (semoga) murah.

 

Share/Save

Info Penulis

Tekun sebagai mahasiswa profesi apoteker, kontributor SS yang aktif di berbagai kegiatan akademik dan kemahasiswaan ini serius sekali dalam menjunjung tinggi nilai-nilai bioteknologi :) .

Komentar terbaru

huwoooow.. terinspirasi ama

huwoooow.. terinspirasi ama saya?? ahahaha