Sakit kepala sebelah alias migrain, Anda mengalaminya? Kenali migrain, penyebab, pencegahan, dan pengobatannya.
Apa sebenarnya penyakit migrain?
Migrain berasal dari bahasa Perancis "migraigne" yang berarti sakit di kepala. Migrain merupakan salah satu sindrom penyakit saraf yang sering didefinisikan sebagai nyeri kepala berdenyut yang menyerang salah satu sisi kepala saja, namun migrain juga terkadang dapat berpindah ke sisi sebelahnya. Migrain yang lebih parah bahkan dapat menyerang kedua sisi kepala sekaligus. Sakit kepala ini seringkali disertai rasa mual dan muntah. Biasanya penderita akan sensitif terhadap cahaya, suara, bahkan bau-bauan tertentu.
Bagaimana migrain dapat terjadi?
Pemicu migrain dapat berasal dari lingkungan, gaya hidup, zat kimia, atau hormon dalam tubuh. Migrain diduga disebabkan oleh adanya aktivitas sinyal listrik otak yang berlebih sehingga memicu pembebasan serotonin dan menyebabkan jumlah serotonin di dalam otak menurun. Serotonin sendiri bertugas sebagai pengantar pesan antara sel saraf yang satu dengan yang lain. Jumlah serotonin yang menurun di otak dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah, bahkan terkadang terjadi peradangan lokal sehingga mengakibatkan sakit kepala yang berdenyut-denyut. Semakin besar peradangan yang terjadi, nyeri yang dirasa akan semakin hebat.
Penyebab migrain secara jelas masih belum dapat dipastikan, namun biasanya diawali dengan gejala pendahuluan seperti gangguan tidur, gelisah, kelelahan atau depresi. Gejala pendahuluan tersebut dapat menyebabkan sel saraf otak mengalami pembengkakan serta menjadi lebih sensitif sehingga menyebabkan pengiriman sinyal yang kurang tepat pada sistem saraf.
Seberapa Banyak Penderita Migrain?
Kebanyakan masyarakat mudah mengalami migrain. Dari beberapa penelitian di Indonesia, prevalensi migrain bergantung kepada umur dan jenis kelamin. Migrain terjadi pada 3-5% dari seluruh populasi. Migrain dapat menyerang anak-anak sampai dewasa. Untuk anak-anak, prevalensi migrain adalah 3% pada anak pra sekolah, 4-11% pada anak-anak sekolah dasar dan 8-23 % pada anak sekolah menengah. Sedangkan untuk orang dewasa, 60-75% migrain terjadi pada wanita yang mayoritas berusia antara 21-40 tahun. Migrain lebih sering ditemukan pada wanita akibat adanya fluktuasi kadar hormon estrogen di dalam tubuh. Pada masa haid dan setelah melahirkan, terjadi penurunan kadar estrogen yang menyebabkan berkurangnya kadar serotonin dalam tubuh.
Klasifikasi Migrain
Migrain secara sederhana dapat dibagi menjadi 2 berdasarkan International Classification of Headache Disorders, yaitu migrain dengan dan tanpa aura.
- Migrain dengan aura
Migrain dengan aura umumnya disertai dengan halusinasi atau gangguan penglihatan (visual blurring) selama 5 -60 menit sebelum terjadinya serangan. Sesudahnya penderita umumnya merasa mual, kesemutan, dan lebih sensitif terhadap cahaya (fotofobia ) serta suara (fonofobia). Oleh karena itu, penderita migrain akan relatif merasa lebih nyaman di ruangan gelap yang sunyi. - Migrain tanpa aura
Migrain jenis ini terjadi tanpa gejala awal seperti halusinasi, serangan sakit kepala dapat berlangsung selama 4-72 jam di satu sisi kepala yang terkadang disertai sakit yang berdenyut. Intensitas sakit yang dialami penderita umumnya sedang hingga berat, dengan nyeri kepala yang bertambah jika menaiki tangga atau melakukan aktivitas fisik lainnya. Gejala lain seperti mual dan muntah cenderung menyerupai migrain dengan aura. Terkadang, penderita dapat mengalami kombinasi migrain dengan dan tanpa aura.
Pencegahan dan Pengobatan Migrain
Migrain dapat dicegah dengan mengatur faktor pemicunya, seperti memperbaiki kebiasaan tidur, tidak merokok, mengurangi konsumsi kafein dan alkohol, berolahraga secara teratur, dan menjauhi stres. Selain itu, pencegahan juga dapat dilakukan dengan mengkonsumsi suplemen atau makanan yang mengandung vitamin B kompleks, omega 3, ekstrak jahe, dan magnesium.
Untuk penderita migrain ringan yang jarang kambuh, obat-obat anti nyeri (analgesik) seperti parasetamol, aspirin, ibuprofen, naproxen, maupun asam mefenamat bisa digunakan. Kombinasi antara analgesik dengan antiemetik (anti mual) seperti parasetamol dengan buclizin atau kombinasi aspirin dengan metoklopramid digunakan untuk mengurangi rasa mual yang diderita.
Bagi penderita migrain yang sering kambuh, umumnya digunakan kombinasi analgesik dengan obat-obatan dibawah ini :
- Golongan steroid seperti deksametason
- Golongan triptan seperti sumatriptan, bila analgesik sudah tidak mampu meredam rasa sakit
- Golongan antidepresan seperti amitriptilin yang dapat memberikan efek penenang bagi penderita
Semoga dengan mengenal migrain lebih dalam, kita dapat mencegah terjadinya migrain dengan menghindari faktor pencetusnya. Sebelum mengkonsumsi obat, ada baiknya Anda menanyakan terlebih dahulu ke dokter atau apoteker Anda obat terbaik yang dapat digunakan untuk gejala migrain yang Anda hadapi.
Referensi
Dipiro, J.T., Pharmacotherapy, 2009, 7th edition, New York : McGraw Hill. Halaman 239-249.
MacGregor, E.A., T.J. Steiner, & P.T.G Davies, Guidelines for All Healthcare Professionals in The Diagnosis and Management of Migraine, Tension-Type, Cluster, and Medication-Overuse Headache, British Association For The Study of Headache, 2010, 3rd edition. Halaman 9-10. (diunduh dari www.bash.org.uk tanggal 22 Februari 2011)
Fransisca, R., Prevalensi dan Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Migren pada Populasi Usia Muda di Jakarta, 2007, Medical Research Unit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (diakses dari http://mru.fk.ui.ac.id/index.php?uPage=profil.profil_detail&smod=profil&sp=public&idpenelitian=2562 tanggal 22 Februari 2011)
Nyeri Kepala pada Anak dan Remaja - Ikatan Dokter Anak Indonesia (diakses dari http://www.idai.or.id/remaja/print.asp?q=201081614314 tanggal 22 Februari 2011)





