Seperti yang kita ketahui, penyakit lupus kebanyakan menyerang wanita pada usia produktif. Lalu muncul pertanyaan, terutama pada wanita yang telah menikah, apakah penderita lupus masih bisa hamil dan memiliki keturunan? Apakah kehamilannya akan aman? Bagaimana dengan kondisi anaknya?
Belum dapat dipastikan apakah kehamilan dapat mencetuskan lupus, kemunculan lupus pada kehamilan tergantung dari jangka waktu dimana pasien tidak menunjukkan gejala kambuh (masa remisi). Pasien lupus dengan masa remisi >6 bulan sebelum kehamilan memiliki risiko 25% kemunculan lupus saat hamil dan 90% kondisi kehamilannya baik. Tetapi sebaliknya, bila masa remisi lupus sebelum hamil <6 bulan maka risiko kemunculan lupus meningkat menjadi 50% dengan luaran kehamilan yang umumnya buruk. Apabila kehamilan terjadi pada saat lupus sedang aktif, terdapat risiko kematian janin sekitar 50-75% dengan 10% risiko kematian ibu. Dengan meningkatnya umur kehamilan, maka risiko kemunculan juga meningkat, yaitu 13% pada trimester I, 14% pada trimester II, 53% pada trimester III serta 23% pada masa nifas.
Nasib kehamilan pasien lupus sangat ditentukan oleh aktivitas penyakitnya. Pada pasien lupus yang hamil, kemungkinan kematian janin meningkat hingga 2-3 kali dibandingkan wanita normal. Bila penderita mengalami hipertensi dan kelainan ginjal, maka tingkat kematian janin menjadi 50% lebih tinggi dibanding wanita hamil pada umumnya. Kelahiran prematur pada lupus, yang sebagian terjadi akibat pre-eklamsia (hipertensi saat hamil), dapat terjadi pada 30-50% kehamilan.
Perlu diingat, pada pasien lupus yang hamil terdapat kemungkinan diserangnya plasenta dan janin oleh antibodi sang ibu yang tidak jarang menyebabkan keguguran. Hal lain yang juga penting adalah adanya pengaruh obat yang dikonsumsi pada kehamilan. Pasien lupus yang sedang menggunakan obat pengencer darah (antikoagulan) pada saat mengandung memiliki risiko kehilangan janin yang lebi besar dibanding pasien tanpa obat-obatan tersebut.
Kehamilan yang direncanakan merupakan pilihan yang paling baik untuk pasien lupus yang masih menginginkan kehamilan. Kehamilan direkomendasikan setelah masa remisi melampaui 6 bulan. Pada kunjungan pertama sebelum kehamilan, pasien lupus dianjurkan melakukan pemeriksaan laboratorium sebagai berikut : pemeriksaan darah lengkap, panel elektrolit, fungsi hati, fungsi ginjal, urinalisis, antibodi anti DNA, antibodi anti kardiolipin, antikoagulan lupus, C3, C4 dan anti SSA/R0 serta anti SSB/La. Hasil pemeriksaan laboratorium tersebut sebaiknya dipantau setiap trimester. Penghentian beberapa obat, seperti hidroksikloroquin yang digunakan untuk mengatasi nyeri sendi akibat gejala lupus, perlu dihentikan enam bulan sebelum konsepsi dengan tujuan untuk melihat apakah terjadi kekambuhan tanpa konsumsi obat.
Pada proses persalinan perlu dipertimbangkan apakah dilakukan secara normal atau melalui operasi caesar. Lama kehamilan pun perlu diperhatikan, bergantung pada kondisi ibu dan janin, apakah akan dipertahankan seperti kehamilan normal atau bayi dilahirkan prematur. Adapun kondisi yang menyebabkan proses persalinan dilakukan secara operasi antara lain : hipertensi parah, trombositopenia berat, serta penyakit ginjal, jantung, atau paru-paru tingkat lanjut.
Pemilihan kontrasepsi yang efektif dan aman merupakan hal yang sangat penting dalam penanganan pasien lupus pasca persalinan. Pemantauan kadar hormon estrogen serta panel antibodi lupus setelah penggunaan kontrasepsi oral dangat dianjurkan untuk memperpanjang masa remisi sang ibu.
Jadi, para penderita lupus tidak perlu khawatir tidak bisa memiliki keturunan. Dengan penanganan yang tepat dan konsultasi medis berkala, peluang untuk memiliki keturunan masih ada untuk Anda.
Referensi:
- DiPiro, J.T., et al., Pharmacotherapy : A Patophysiologic Approach, 6th ed., Mc-Graw-Hill, New York.
- Department of Health and Human Services, Natural Institutes of Health, Lupus: A Patient Care Guide for Nurses and Other Health Professionals, 2006. Kusuma, A.A, Lupus Eritematosus Sistemik pada Kehamilan, SMF Obstetri dan Ginekologi RSUP Sanglah Denpasar.
- Lahita, R.G., Systemic Lupus Erythematosus, 4th ed., 2003.
- Wallace, D.J., The Lupus Book: A Guide for Patients and Their Families, 3rd ed., Oxford University Press, New York, 2005.





