Mungkin beberapa dari Anda bertanya-tanya tentang lupus? Apakah itu? Sebagian dari Anda mungkin hanya mengingat Lupus sebagai salah satu karakter novel karangan Hilman. Namun, lupus yang dimaksud disini bukanlah karakter fiksi, melainkan suatu jenis penyakit dengan nama lengkap Systemic Lupus Erythematosus, yang biasa disingkat menjadi lupus. Cari tahu lebih jauh tentang lupus, yuk?
Apakah Lupus itu?
Lupus adalah suatu penyakit autoimun dimana sistem imun memproduksi antibodi yang menyerang sel-sel di dalam tubuh sendiri. Seharusnya, antibodi bekerja sebagai tentara yang menyerang sel-sel asing yang masuk ke dalam tubuh.
Lupus seringkali baru dapat didiagnosis pada rentang usia 15-45 tahun. Namun, lupus juga dapat ditemukan pada bayi (disebut sindrom neonatal lupus) dan pada anak-anak. Lupus pada anak biasanya berkembang mulai usia 3 tahun dan pada awal masa pubertas. Meski angka kejadiannya rendah (<5% dari seluruh kasus lupus), lupus pada anak biasanya parah dan menyerang berbagai organ. Kejadian lupus pada usia 45 tahun atau setelah menopause jarang terjadi, dan diagnosis lupus pada usia 70 tahun sangat jarang terjadi. Dari segi ras, lupus juga dilaporkan lebih sering terjadi pada ras non-Kaukasia, seperti Asia, Hispanik, dan keturunan Afrika-Amerika.
Seperti Apakah Gejala Lupus?
Pada pasien lupus, seringkali timbul gejala yang tidak spesifik, seperti demam, kelelahan, anoreksia, dan turunnya berat badan. Hal inilah yang umumnya menyebabkan penyakit lupus sulit dideteksi. Gejala lain yang dapat muncul antara lain masalah persendian (radang sendi, nyeri otot, dan nyeri sendi) dan pernapasan (radang pada selaput paru, napas pendek, dan batuk-batuk). Gejala khas penyakit lupus umumnya terlihat pada kulit dengan munculnya butterfly rash (ruam kemerahan berbentuk kupu-kupu) dengan penderita yang lebih sensitif terhadap cahaya. Kurang darah (anemia), peradangan pada jantung, dan gangguan fungsi berpikir, seperti gugup dan depresi, juga dapat terjadi sebagai gejala penyakit ini.
Asosiasi Reumatolog Amerika (American Rheumatologist Association) pertama kali membuat sebelas kriteria yang dijadikan sebagai pedoman awal dalam mendiagnosis keberadaan lupus pada tahun 1971. Bila seseorang merasa memiliki empat kriteria dari sebelas kriteria yang disebutkan, maka ia dianjurkan untuk segera berkonsultasi pada dokter, untuk mendapatkan diagnosis lebih lanjut. Adapun kesebelas kriteria tersebut adalah :
1. Kulit kemerahan
2. Discoid rash (ruam kemerahan pada kulit yang bisa menyebar hingga ke seluruh tubuh)
3. Sensitif terhadap cahaya
4. Sariawan pada mulut
5. Radang sendi
6. Serositis (peradangan pada selaput paru, jantung, dan organ dalam lainnya)
7. Gangguan ginjal
8. Gangguan saraf
9. Gangguan darah
10. Kelainan pada sistem imun
11. Kadar ANA (anti-nuclear antibody) yang abnormal dalam darah

Sumber gambar: revolutionhealth.com
Adakah Obatnya?
Terapi yang diharapkan untuk pasien lupus harus mencakup dua hal, perbaikan terhadap gejala dan mencegah kekambuhan selama mungkin. Karena beragamnya gejala klinis penyakit ini, maka terapi yang dilakukan sangat beragam dan bergantung pada kondisi masing-masing pasien. Satu hal yang juga penting, perawatan optimal untuk pasien lupus harus disertai dengan edukasi dan dukungan moral dari kerabat terdekat. Di Indonesia, Syamsi Dhuha Foundation dan Yayasan Lupus Indonesia adalah organisasi yang mewadahi pasien dan kerabat pasien lupus untuk dapat saling berbagi segala informasi mengenai lupus.
Gejala yang paling sering muncul pada pasien lupus adalah rasa lemas. Olah raga dan istirahat yang seimbang, serta mencegah kelelahan, sangat berguna untuk menangani rasa lemas. Penderita lupus juga dianjurkan menghindari rokok karena senyawa hidrazin di dalam rokok dapat menjadi pencetus kekambuhan dan memperparah gejala lupus. Pengaturan diet yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing penderita juga disarankan untuk mendukung kualitas hidupnya. Selain itu, karena kulit yang lebih sensitif terhadap cahaya, penderita sebaiknya menghindari paparan sinar matahari berlebihan.
Sementara itu, untuk terapi dengan menggunakan obat, dokter umumnya meresepkan obat yang ditujukan untuk menekan respon sistem imun dan mengurangi peradangan yang terjadi, salah satunya golongan steroid. Bulan Maret 2011, belimumab (dipasarkan dengan nama dagang Benlysta), telah mendapat persetujuan Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika (FDA) sebagai obat pertama untuk lupus. Belimumab bekerja secara tidak langsung menghambat produksi antibodi autoreaktif, si antibodi 'nakal' yang dihasilkan di tubuh pasien lupus. Tentu, besar harapan para penderita lupus di Indonesia untuk dapat menerima pengobatan ini, terutama dengan harga yang terjangkau.
Namun apapun pengobatan yang diberikan oleh dokter, perlu diingat, terapi obat antar penderita lupus tidak selalu sama, karena sangat bergantung pada gejala yang muncul dan kondisi masing-masing penderita. Sebelum menggunakan terapi pendukung, seperti akupunktur dan konsumsi obat herbal, penderita lupus dianjurkan untuk berkonsultasi ke dokter terlebih dahulu demi keberhasilan terapi.
Semoga informasi ini dapat bermanfaat untuk meningkatkan kewaspadaan dan kepedulian kita terhadap lupus. Let's care for Lupus, your caring saves lives.
Tertarik mengetahui lebih dalam tentang lupus? Atau berminat menjadi relawan? Anda dapat menghubungi Syamsi Dhuha Foundation (Jl. Ir. H. Juanda 369 Bandung, www.syamsidhuhafoundation.org) atau Yayasan Lupus Indonesia (Jl. Tanah Mas II/H. no. 87 Jakarta Timur)
Referensi
- Benlysta (Belimumab) - Human Genome Sciences (http://www.hgsi.com/benlysta-belimumab-3.html) diakses 13 Mei 2011
- Department of Health and Human Services, Natural Institutes of Health, Lupus: A Patient Care Guide for Nurses and Other Health Professionals, 2006.
- DiPiro, J.T., et al., Pharmacotherapy : A Patophysiologic Approach, 6th ed., Mc-Graw-Hill, New York.
- Lahita, R.G., Systemic Lupus Erythematosus, 4th ed., 2003.
- Wallace, D.J., The Lupus Book: A Guide for Patients and Their Families, 3rd ed., Oxford University Press, New York, 2005.





