mitos

Benarkah E-mail atau Pesan Berantai Ini?

0
Your rating: None

Pada saat perkembangan teknologi informasi seperti e-mail sudah sangat pesat, tidak semua pihak menggunakannya untuk kepentingan-kepentingan yang baik. Ada pihak-pihak yang menggunakannya untuk menyebarkan informasi yang salah, tujuannya bisa untuk menjatuhkan musuh/kompetitornya dalam dunia bisnis. Seperti apa ciri e-mail hoax?

“Jangan gunakan lensa kontak saat anda atau saudara anda hadir di pesta BBQ atau sejenisnya yang berhubungan dengan api. Sebuah kisah nyata mengenai efek lensa kontak. Ini terjadi pada seorang pemuda berusia 21 tahun, dia pakai lensa kontak selama pesta BBQ. Ketika dia sedang memanggang daging, dia memandangi terus bara api itu. Setelah beberapa detik kemudian, dia mulai berteriak minta tolong dan meloncat-loncat. Orang-orang disekitar tidak tahu kenapa. Saat tiba di rumah sakit, dokter bilang kalau pemuda itu buta permanen akibat lensa kontak yang dipakai. Lensa kontak terbuat dari plastik dan hawa panas dari bara api telah melelehkan lensa kontak tersebut.So, beri tahu semua teman Anda.JANGAN PAKAI LENSA KONTAK SAAT  BERHADAPAN DENGAN HAWA PANAS ATAU API.Ini peringatan buat yang menggunakan lensa kontak/soft lens.” Masih ingatkah Anda dengan email atau pesan berantai seperti di atas?Seperti yang ditulis Swestika dalam artikel Lensa Kontak Meleleh? kita jadi tahu bahwa e-mail itu adalah bohong. Pada saat seperti ini, dimana perkembangan teknologi informasi seperti e-mail sudah sangat pesat, tidak semua pihak menggunakannya untuk kepentingan-kepentingan yang baik. Ada pihak-pihak yang menggunakannya untuk menyebarkan informasi yang salah, tujuannya bisa untuk menjatuhkan musuh/kompetitornya dalam dunia bisnis. Bila saja orang percaya pada email tersebut dan semua orang menghindari penggunaan lensa kontak, bisa kita bayangkan akan terjadi kebangkrutan perusahaan lensa kontak. E-mail yang berisi berita bohong, dikenal sebagai hoax.Ciri-ciri e-mail ini adalah menulis berita bohong yang seolah-olah dilandasi oleh dasar ilmiah sangat kuat dan biasanya menyangkut produk yang terkenal, dan selanjutnya diembel-embeli ajakan untuk ikut peduli terhadap orang lain dengan cara meneruskan e-mail tersebut. Untuk memperkuat “fakta”, maka biasanya penulis atau sumber ditulis sebagai instansi yang dipercaya misalnya, “menurut berita dari CNN” atau diatasnamakan seseorang sebagai direktur suatu perusahaan dan cara-cara lain. Sebagai masyarakat, tentunya kita jangan mudah percaya dengan berita semacam ini, karena alih-alih membantu teman/keluarga dengan informasi berguna malah memberikan berita yang menyesakan. Namun, tidak mudah membedakan informasi bohong dan informasi yang benar. Oleh karena itu, untuk membantu Anda mendapatkan klarifikasi dari informasi-informasi kesehatan yang beredar di masyarakat, kami di Serambisehat.com hadir dengan rubrik Mitos-Fakta.

penulis: 

Makan Timun Setelah Makan Sate, Mitos atau Fakta?

3
Your rating: None Average: 3 (1 vote)

Bagaimana tanggapan Serambi Sehat tentang ini: Kalau Anda makan sate, jangan lupa makan timun setelahnya. Karena ketika kita makan sate sebetulnya ikut juga karbon dari hasil pembakaran arang yang dapat menyebabkan kanker.

Kalau Anda makan sate, jangan lupa makan timun setelahnya. Karena ketika kita makan sate sebetulnya ikut juga karbon dari hasil pembakaran arang yang dapat menyebabkan kanker. Untuk itu kita punya obatnya yaitu timun yang disarankan untuk dimakan setelah makan sate. Karena sate mempunyai zat Karsinogen (penyebab kanker) tetapi timun ternyata punya anti Karsinogen. Jadi jangan lupa makan timun setelah makan sate.

Informasi di atas telah lama beredar di dunia maya sejak awal tahun 2000an. Biasanya muncul bersama dengan info mengenai racun udang-vitamin C dan mie instan berlapis lilin. Hinggga saat ini pun masih banyak situs-situs yang mengutipnya. Memang setelah dibaca sekilas seperti terlihat masuk akal, namun bagaimanakah sebenarnya yang terjadi? Mari kita bahas.

Sate mengandung zat karsinogenik.
Penelitian telah menunjukkan bahwa beberapa jenis daging tertentu yang dimasak pada suhu yang tinggi dapat memproduksi senyawa baru yang sebelumnya tidak terdapat dalam keadaan mentah. Beberapa dari jenis senyawa ini berpotensi menyebabkan kanker, misalnya heterocyclic amines (HCA) dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH).

PAH merupakan kelompok senyawa yang terbentuk akibat pembakaran yang tidak sempurna dari zat-zat anorganik (arang, minyak dan gas) serta zat organik seperti tembakau. Dalam daging yang dipanggang, PAH terbentuk saat lemak daging menetes ke atas arang, kemudian menyatu dalam asap dan melekat dalam makanan tersebut. PAH juga dapat terbentuk langsung saat daging yang dipanggang terlalu gosong sehingga teksturnya menjadi seperti arang.

HCA terbentuk ketika asam amino (unsur pembangun utama dari protein) dan kreatin (senyawa yang terdapat di jaringan otot) bereaksi pada suhu tinggi. Ada 4 hal yang berpengaruh terhadap pembentukan HCA, yaitu: jenis makanan, suhu, waktu, dan cara memasak. Daging yang dimasak menghasilkan HCA lebih banyak dari sumber protein lain (telur, susu, tahu dan daging jeroan seperti hati) yang mengandung sedikit HCA atau tidak sama sekali. HCA juga ditemukan dalam jumlah paling besar pada daging yang digoreng dan dipanggang langsung di atas api karena melibatkan suhu yang sangat tinggi. Suhu yang tinggi ini memiliki peranan sangat penting dalam pembentukan HCA. Daging yang dipanggang dalam oven menghasilkan HCA lebih sedikit karena suhu yang digunakannya lebih rendah. Daging yang direbus dalam suhu kurang dari 100oC menghasilkan zat ini lebih sedikit lagi. Selain itu, waktu memasak yang lebih lama juga akan menghasilkan HCA lebih banyak.

Jadi, apakah sate mengandung zat karsinogenik? YA.

Timun mengandung zat antikarsinogenik.
Sebagai sayuran, timun mengandung karotenoid, folat serta vitamin C. Dari berbagai penelitian, zat-zat ini terbukti bersifat sebagai antikarsinogenik. Zat-zat lain yang potensial sebagai senyawa antikarsinogenik diantaranya: flavonoid, senyawa fenolat, serat makanan, isotiosianat, dan isoflavon. Zat-zat tersebut terkandung dalam sayuran dan buah-buahan secara umum. Zat-zat tersebut memproteksi tubuh dari kanker dengan beberapa cara antara lain: mengobati cedera oksidatif pada lemak dan DNA, stimulasi perbaikan DNA serta induksi apoptosis.

Jadi, apakah timun mengandung zat yang berpotensi sebagai antikarsinogenik? YA.

Makan timun setelah makan sate.
Setelah kita mengetahui bahwa sate mengandung zat penyebab kanker dan timun mengandung zat antikanker, apakah tepat saran untuk makan timun setelah makan sate? Hal tersebut membutuhkan pengamatan yang lebih dalam lagi.

Berbagai penelitian memang menunjukkan hubungan yang positif antara konsumsi sayuran dan buah-buahan dengan penurunan risiko terjadinya kanker. Data yang diperoleh kebanyakan berasal dari penelitian epidemiologis yang mencari hubungan antara banyaknya kejadian kanker dengan konsumsi makanan. Dari penelitian tersebut terlihat bahwa peningkatan konsumsi sayuran dan buah-buahan dapat menurunkan risiko terkena kanker.

Saran untuk mengkonsumsi timun setelah makan sate untuk mengurangi resiko kanker masih perlu dipertanyakan apabila dilihat dari hal berikut:
1. Timun yang diberikan oleh penjual sate biasanya hanya beberapa potongan saja. Meskipun tidak ada data pasti mengenai seberapa banyak timun yang harus dimakan, namun untuk bisa melenyapkan rasa khawatir terkena kanker akibat sate, jumlah tersebut mungkin masih kurang. Dalam hal ini, kita bermain dengan risiko. Secara logika, resiko kanker berbanding terbalik dengan konsumsi timun. Artinya, makin banyak konsumsi timun, risiko kanker akibat sate akan makin sedikit. Selain itu, jumlah sate yang dimakan juga berpengaruh terhadap paparan zat-zat karsinogenik yang akhirnya berpengaruh pula terhadap risiko terkena kanker. Namun tentunya, hal tersebut membutuhkan penelitian yang lebih mendalam lagi.
2. Apabila timun tersebut diberikan dalam bentuk acar/asinan, maka yang mungkin terjadi malah kebalikan dari yang diharapkan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa acar/asinan buah-buahan memiliki hubungan positif dengan risiko terkena kanker [4]. Alih-alih melindungi dari kanker, acar timun malah manambah faktor risiko kanker.
3. Timun hanyalah salah satu dari berbagai jenis sayuran yang mengandung zat antikanker. Masih banyak sayuran lain yang lebih populer dalam menurunkan risiko terkena kanker. Mengapa harus timun?

Seperti telah disebutkan di atas, perlu penelitian lebih lanjut mengenai pantasnya timun sebagai pendamping sate dalam kaitannya dengan pencegahan kanker (bukan dalam hal kombinasi cita rasa makanan). Selain itu, kontribusi paparan zat karsinogenik selain yang terdapat dalam sate juga harus masuk dalam hitungan. Tentu saja, konsumsi sayuran dan buah juga harus lebih banyak lagi. Sementara ini, sekurang-kurangnya 400 g total sayuran dan buah adalah jumlah yang disarankan untuk dikonsumsi setiap harinya, tidak hanya timun saja.

penulis: 
referensi: 
  1. Heterocyclic Amines in Cooked Meats, http://www.cancer.gov/cancertopics/factsheet/Risk/heterocyclic-amines
  2. Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs), Agency for Toxic Substances and Disease Registry, U.S. Department of Health and Human Services, Public Health Service, September 1996.
  3. Are Backyard Barbecues Bad for Your Health?, http://environment.about.com/od/health/a/charcoal_grills.htm
  4. Vegetables, Fruit, and Cancer Prevention: A Review, Kristi A. Steinmetz, PhD, RD; John D. Potter, MD, PhD, Journal of American Dietetic Association; October 1996
  5. Diet that prevents cancer: recommendations from the American Institute for Cancer Research, Muñoz de Chávez M, Chávez A., Int J Cancer Suppl., 1998. (Pubmed Abstract, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9876487)
  6. Promoting Good Nutritional Habits for Breast Cancer Patients and Survivors, http://www.hopkinsbreastcenter.org/library/diagnosis_treatment/nutrition...
  7. Diet, nutrition and the prevention of cancer, Key TJ, Schatzkin A, Willett WC, Allen NE, Spencer EA, Travis RC., 2004 (Pubmed Abstract, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/14972060)
  8. Cucumbers In-depth nutrient analysis, http://www.whfoods.com/genpage.php?tname=nutrientprofile&dbid=62
  9. Fruit and Vegetable Intakes and Risk of Colorectal Cancer: Results, http://www.medscape.com/viewarticle/560863_3
Syndicate content