Lepra

Apa itu Lepra?

Mendengar kata kusta atau lepra, asosiasi kita langsung pada keadaan penderitanya yang cacat. Sebenarnya apa dan bagaimanakah penyakit tersebut?

Lepra? Sekali kita mendengarnya, pasti langsung enggan untuk membayangkan penyakit kulit yang satu ini. Di masyarakat, seringkali lepra dikaitkan dengan jari jemari yang tiba-tiba putus atau lebih ekstrimnya meninggalkan penderitanya cacat seumur hidup. Seperti AIDS, tak jarang anggapan negatif sebagai manusia berpenyakit menular pun melekat erat pada penderita lepra hingga mereka dikucilkan dari masyarakat sekitar. Apakah lepra sedemikian berbahayanya? Adakah yang bisa kita perbuat untuk penderitanya?

Seperti apa Lepra sebenarnya ?
Lepra atau kusta merupakan suatu penyakit infeksi dengan adanya kerusakan pada kulit dan jaringan saraf  tepi. Masyarakat di luar Indonesia sering menyebut lepra dengan istilah penyakit Hansen (Hansen’s disease). Hal ini dikarenakan lepra pertama kali ditemukan pada tahun 1874 oleh Dr. Gerhard Armauer Hansen, seorang dokter yang berasal dari Norwegia.

Penyakit lepra diduga berasal dari daerah Afrika dan sekitar Asia Tengah. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini bersifat parasit, sehingga tidak dapat hidup dan berkembang biak diluar tubuh inangnya. Sampai saat ini masih belum diketahui mekanisme spesifik terjadinya penyakit lepra. Bakteri Mycobacterium leprae mudah berkembang pada tubuh penderita yang daya tahan tubuhnya menurun, terutama pada lingkungan dengan sanitasi yang buruk. Hal ini dapat menyebabkan kulit menjadi lebih peka terhadap suhu serta tekanan. Sebagai gejala awal, lepra dapat dikenali dengan melihat adanya bercak-bercak terang pada kulit yang disebabkan oleh hilangnya pigmen kulit. Tanda-tanda lain untuk penyakit lepra diantaranya timbul bintil-bintil kemerahan yang tersebar pada kulit serta kerontokan alis dan rambut tubuh lainnya. Reaksi yang lebih ekstrim ditandai dengan demam dengan derajat rendah hingga menggigil, mual, iritasi dan kadang disertai oleh neuritis1).

Ciri khas lain penyakit lepra adalah jari-jari yang mati rasa. Hal ini diakibatkan oleh adanya penebalan di sistem saraf tepi, seperti tangan dan kaki. Gejala ini, jika tidak diobati, umumnya berkembang menjadi infeksi, luka bernanah, dan kerusakan jaringan yang akhirnya mengakibatkan putusnya jari.

Klasifikasi Ridley-Jopling, yang umum digunakan di Amerika Serikat, membedakan lepra berdasarkan tingkat penyebaran bercak sebagai berikut :

  1. Lepra Tuberkuloid
    Merupakan jenis lepra dengan gejala utama bercak-bercak pucat di kulit disertai dengan rasa nyeri di berbagai bagian tubuh karena adanya penebalan saraf perifer. Hal ini menyebabkan penebalan daerah sekitar karena bakteri telah merusak sistem saraf perifer setempat.
  2.  Lepra Lepromateus
    Merupakan jenis lepra yang menyebabkan benjolan kecil serta kerontokan rambut yang terkadang disertai dengan demam.
  3.    Lepra Borderline
    Merupakan jenis lepra yang terparah karena merupakan gabungan dari lepra tuberkuloid dengan lepra lepromateus.

Menular atau Tidak?

Ya, lepra adalah penyakit menular. Namun lepra merupakan penyakit yang jauh lebih tidak mudah menular dibandingkan flu biasa. Penderita lepra dapat menularkan basil kuman lepra melalui lendir hidung. Mycobacterium leprae diperkirakan berkembang di saluran pernapasan selama 2-8 tahun sebelum gejala awal lepra dapat diamati. Selain itu, lepra juga dicurigai dapat menular melalui kontak dengan kulit penderita, namun infeksi melalui kontak ini hanya dapat terjadi bila bersinggungan langsung dengan penderita dalam jangka waktu lama. Sebuah studi di Inggris menunjukkan, kasus baru lepra hanya ditemukan pada pasien yang telah tinggal dan berinteraksi sedikitnya selama 8 tahun di negara endemik lepra.

Dimana Penyebarannya?

Di dunia, lepra sebagian besar ditemukan di negara dunia ketiga. Sebanyak 54% kasus lepra ditemukan di India, diikuti Brazil (17%) dan Indonesia (7%). Negara lain yang melaporkan sedikitnya 1000 kasus baru lepra setiap tahunnya antara lain Filipina, Angola, Cina, Bangladesh, dan Tanzania.

Penyebaran penyakit lepra di Indonesia didominasi di Indonesia bagian timur, seperti daerah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Kepulauan Maluku dan Irian Jaya. Di daerah lain seperti pulau  Jawa dan Sumatera, 1-2 kasus lepra masih dapat ditemui dari 10.000 penduduk.

Apa Obatnya

Pengobatan penyakit lepra dilakukan dengan menggunakan antibiotik, yang durasinya bergantung kepada tingkat keparahan pasien. Pasien lepra umumnya harus mengkonsumsi obat hingga 6-24 bulan, sehingga diperlukan kepatuhan dan kesabaran pasien agar tercapai terapi yang optimal. Antibiotik yang digunakan untuk menangani penyakit lepra adalah sebagai berikut :

  1. Dapson (Diaminodifenilsulfon)
    Merupakan tablet oral dengan dosis 50-100 mg/tablet. Dapson bersifat bakteriostatik dengan bekerja menghambat pembentukan asam dihidrofolat dengan inhibisi PABA secara kompetitif di situs aktif enzim dihidropteroat sintase, yang berguna bagi kelangsungan hidup bakteri. Obat ini murah, efektif dan relatif aman.
  2.   Clofazimin
    Merupakan obat oral dengan dosis 50-100 mg/kapsul.  Obat ini umumnya diberikan setelah makan agar tidak menyebabkan iritasi terhadap saluran pencernaan.
  3. Rifampisin
    Merupakan obat oral dengan dosis 150 mg, 300 mg, 450 mg dan 600 mg, tergantung kepada tingkat keparahan infeksi pasien. Rifampisin bersifat bakterisidal2) dengan menghambat enzim RNA polimerase.
  4. Antibiotik lainnya seperti etionamid, klaritromisin dan ofloksasin.

Dapson merupakan obat lepra yang pertama kali dikembangkan, namun adanya resistensi obat ini menyebabkan penggunaan dapson secara tunggal dikontraindikasikan pada pengobatan lepra. Pada prakteknya, rifampisin selalu digunakan bersamaan dengan klofazimin dan dapson untuk mencegah resistensi obat. Sejak 1995, WHO telah menyediakan paket obat gratis yang ditujukan bagi seluruh negara endemik lepra.

Lepra Bisa Dicegah?
Di negara endemik, yang umumnya merupakan negara tropis yang hangat, pencegahan penularan penyakit lepra dapat dilakukan dengan menciptakan lingkungan yang bersih, menghindari adanya tempat lembab, serta membiarkan sinar matahari langsung masuk ke dalam rumah karena bakteri Mycobacterium leprae relatif tidak tahan terhadap panas. Bila mulai mengalami bercak putih seperti panu serta mati rasa, dapat mengkonsultasikannya dengan dokter kulit setempat.

Setiap tahun, hari lepra sedunia dirayakan pada tanggal 31 Januari, untuk memperingati hari kematian Mahatma Gandhi, seorang tokoh India yang berjasa besar dalam membantu keberlangsungan hidup kaum lepra pada masanya.

Catatan:
1) Neuritis : peradangan pada saraf perifer, terutama ujung-ujung tangan dan kaki, yang dapat ditandai dengan mati rasa dan hilangnya refleks tubuh
2) Bakterisidal : senyawa yang dapat membunuh bakteri

Referensi

  1. Zulkifli, 2005, Penyakit Kusta dan Masalah yang Ditimbulkannya, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara <diunduh dari http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-zulkifli2.pdf, tanggal 10 Januari 2011>
  2. Partogi, D., 2008, Pengadaan Obat Kusta, Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK USU / RSUP Adam Malik, Medan <diunduh dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3434/1/08E00853.pdf, tanggal 10 Januari 2011>
  3. Classification for Treatment Purposes - National Hansen's Disease Program: Skin Smear/Biopsy Chart <http://www.hrsa.gov/hansens/clinical/diagnostics/classification.htm diakses tanggal 20 Januari 2011>

referensi: 

Zulkifli, 2005, Penyakit Kusta dan Masalah yang Ditimbulkannya, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara <diunduh dari  http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-zulkifli2.pdf, tanggal 10 Januari 2011>

Partogi, D., 2008, Pengadaan Obat Kusta, Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK USU / RSUP Adam Malik, Medan  <diunduh dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3434/1/08E00853.pdf, tanggal 10 Januari 2011>

Classification for Treatment Purposes - National Hansen's Disease Program: Skin Smear/Biopsy Chart <http://www.hrsa.gov/hansens/clinical/diagnostics/classification.htm diakses tanggal  20 Januari 2011>

Syndicate content