kanker

Makan Timun Setelah Makan Sate, Mitos atau Fakta?

3
Your rating: None Average: 3 (1 vote)

Bagaimana tanggapan Serambi Sehat tentang ini: Kalau Anda makan sate, jangan lupa makan timun setelahnya. Karena ketika kita makan sate sebetulnya ikut juga karbon dari hasil pembakaran arang yang dapat menyebabkan kanker.

Kalau Anda makan sate, jangan lupa makan timun setelahnya. Karena ketika kita makan sate sebetulnya ikut juga karbon dari hasil pembakaran arang yang dapat menyebabkan kanker. Untuk itu kita punya obatnya yaitu timun yang disarankan untuk dimakan setelah makan sate. Karena sate mempunyai zat Karsinogen (penyebab kanker) tetapi timun ternyata punya anti Karsinogen. Jadi jangan lupa makan timun setelah makan sate.

Informasi di atas telah lama beredar di dunia maya sejak awal tahun 2000an. Biasanya muncul bersama dengan info mengenai racun udang-vitamin C dan mie instan berlapis lilin. Hinggga saat ini pun masih banyak situs-situs yang mengutipnya. Memang setelah dibaca sekilas seperti terlihat masuk akal, namun bagaimanakah sebenarnya yang terjadi? Mari kita bahas.

Sate mengandung zat karsinogenik.
Penelitian telah menunjukkan bahwa beberapa jenis daging tertentu yang dimasak pada suhu yang tinggi dapat memproduksi senyawa baru yang sebelumnya tidak terdapat dalam keadaan mentah. Beberapa dari jenis senyawa ini berpotensi menyebabkan kanker, misalnya heterocyclic amines (HCA) dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH).

PAH merupakan kelompok senyawa yang terbentuk akibat pembakaran yang tidak sempurna dari zat-zat anorganik (arang, minyak dan gas) serta zat organik seperti tembakau. Dalam daging yang dipanggang, PAH terbentuk saat lemak daging menetes ke atas arang, kemudian menyatu dalam asap dan melekat dalam makanan tersebut. PAH juga dapat terbentuk langsung saat daging yang dipanggang terlalu gosong sehingga teksturnya menjadi seperti arang.

HCA terbentuk ketika asam amino (unsur pembangun utama dari protein) dan kreatin (senyawa yang terdapat di jaringan otot) bereaksi pada suhu tinggi. Ada 4 hal yang berpengaruh terhadap pembentukan HCA, yaitu: jenis makanan, suhu, waktu, dan cara memasak. Daging yang dimasak menghasilkan HCA lebih banyak dari sumber protein lain (telur, susu, tahu dan daging jeroan seperti hati) yang mengandung sedikit HCA atau tidak sama sekali. HCA juga ditemukan dalam jumlah paling besar pada daging yang digoreng dan dipanggang langsung di atas api karena melibatkan suhu yang sangat tinggi. Suhu yang tinggi ini memiliki peranan sangat penting dalam pembentukan HCA. Daging yang dipanggang dalam oven menghasilkan HCA lebih sedikit karena suhu yang digunakannya lebih rendah. Daging yang direbus dalam suhu kurang dari 100oC menghasilkan zat ini lebih sedikit lagi. Selain itu, waktu memasak yang lebih lama juga akan menghasilkan HCA lebih banyak.

Jadi, apakah sate mengandung zat karsinogenik? YA.

Timun mengandung zat antikarsinogenik.
Sebagai sayuran, timun mengandung karotenoid, folat serta vitamin C. Dari berbagai penelitian, zat-zat ini terbukti bersifat sebagai antikarsinogenik. Zat-zat lain yang potensial sebagai senyawa antikarsinogenik diantaranya: flavonoid, senyawa fenolat, serat makanan, isotiosianat, dan isoflavon. Zat-zat tersebut terkandung dalam sayuran dan buah-buahan secara umum. Zat-zat tersebut memproteksi tubuh dari kanker dengan beberapa cara antara lain: mengobati cedera oksidatif pada lemak dan DNA, stimulasi perbaikan DNA serta induksi apoptosis.

Jadi, apakah timun mengandung zat yang berpotensi sebagai antikarsinogenik? YA.

Makan timun setelah makan sate.
Setelah kita mengetahui bahwa sate mengandung zat penyebab kanker dan timun mengandung zat antikanker, apakah tepat saran untuk makan timun setelah makan sate? Hal tersebut membutuhkan pengamatan yang lebih dalam lagi.

Berbagai penelitian memang menunjukkan hubungan yang positif antara konsumsi sayuran dan buah-buahan dengan penurunan risiko terjadinya kanker. Data yang diperoleh kebanyakan berasal dari penelitian epidemiologis yang mencari hubungan antara banyaknya kejadian kanker dengan konsumsi makanan. Dari penelitian tersebut terlihat bahwa peningkatan konsumsi sayuran dan buah-buahan dapat menurunkan risiko terkena kanker.

Saran untuk mengkonsumsi timun setelah makan sate untuk mengurangi resiko kanker masih perlu dipertanyakan apabila dilihat dari hal berikut:
1. Timun yang diberikan oleh penjual sate biasanya hanya beberapa potongan saja. Meskipun tidak ada data pasti mengenai seberapa banyak timun yang harus dimakan, namun untuk bisa melenyapkan rasa khawatir terkena kanker akibat sate, jumlah tersebut mungkin masih kurang. Dalam hal ini, kita bermain dengan risiko. Secara logika, resiko kanker berbanding terbalik dengan konsumsi timun. Artinya, makin banyak konsumsi timun, risiko kanker akibat sate akan makin sedikit. Selain itu, jumlah sate yang dimakan juga berpengaruh terhadap paparan zat-zat karsinogenik yang akhirnya berpengaruh pula terhadap risiko terkena kanker. Namun tentunya, hal tersebut membutuhkan penelitian yang lebih mendalam lagi.
2. Apabila timun tersebut diberikan dalam bentuk acar/asinan, maka yang mungkin terjadi malah kebalikan dari yang diharapkan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa acar/asinan buah-buahan memiliki hubungan positif dengan risiko terkena kanker [4]. Alih-alih melindungi dari kanker, acar timun malah manambah faktor risiko kanker.
3. Timun hanyalah salah satu dari berbagai jenis sayuran yang mengandung zat antikanker. Masih banyak sayuran lain yang lebih populer dalam menurunkan risiko terkena kanker. Mengapa harus timun?

Seperti telah disebutkan di atas, perlu penelitian lebih lanjut mengenai pantasnya timun sebagai pendamping sate dalam kaitannya dengan pencegahan kanker (bukan dalam hal kombinasi cita rasa makanan). Selain itu, kontribusi paparan zat karsinogenik selain yang terdapat dalam sate juga harus masuk dalam hitungan. Tentu saja, konsumsi sayuran dan buah juga harus lebih banyak lagi. Sementara ini, sekurang-kurangnya 400 g total sayuran dan buah adalah jumlah yang disarankan untuk dikonsumsi setiap harinya, tidak hanya timun saja.

penulis: 
referensi: 
  1. Heterocyclic Amines in Cooked Meats, http://www.cancer.gov/cancertopics/factsheet/Risk/heterocyclic-amines
  2. Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs), Agency for Toxic Substances and Disease Registry, U.S. Department of Health and Human Services, Public Health Service, September 1996.
  3. Are Backyard Barbecues Bad for Your Health?, http://environment.about.com/od/health/a/charcoal_grills.htm
  4. Vegetables, Fruit, and Cancer Prevention: A Review, Kristi A. Steinmetz, PhD, RD; John D. Potter, MD, PhD, Journal of American Dietetic Association; October 1996
  5. Diet that prevents cancer: recommendations from the American Institute for Cancer Research, Muñoz de Chávez M, Chávez A., Int J Cancer Suppl., 1998. (Pubmed Abstract, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9876487)
  6. Promoting Good Nutritional Habits for Breast Cancer Patients and Survivors, http://www.hopkinsbreastcenter.org/library/diagnosis_treatment/nutrition...
  7. Diet, nutrition and the prevention of cancer, Key TJ, Schatzkin A, Willett WC, Allen NE, Spencer EA, Travis RC., 2004 (Pubmed Abstract, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/14972060)
  8. Cucumbers In-depth nutrient analysis, http://www.whfoods.com/genpage.php?tname=nutrientprofile&dbid=62
  9. Fruit and Vegetable Intakes and Risk of Colorectal Cancer: Results, http://www.medscape.com/viewarticle/560863_3

SADARI Sekarang! Selamatkan Satu Wanita Setiap Sebelas Menit!

5
Your rating: None Average: 5 (2 votes)

Lebih cepat, lebih baik. Selain merupakan jargon salah satu pasangan saat pemilu capres-cawapres lalu, pepatah ini juga berlaku untuk deteksi dini penyakit kanker payudara yang setiap sebelas menit membunuh satu wanita di dunia. Cegahlah salah satunya dengan SADARI. Apa itu SADARI?

Lebih cepat, lebih baik. Selain ‘katanya’ berlaku untuk pemilu capres-cawapres lalu, pepatah ini juga berlaku untuk deteksi dini penyakit kanker. Si pembunuh manusia nomor dua di dunia setelah penyakit kardiovaskular ini memang pantas diketahui keberadaannya sejak dini, apalagi jika setiap sebelas menit ia melahap satu wanita tanpa ampun. Ya, kanker payudara. Jika Anda, atau wanita yang Anda sayangi termasuk salah satu kategori berikut, Anda termasuk yang harus berhati-hati :

1.   Gaya hidup tidak sehat : mengkonsumsi alkohol, merokok, dan mengalami obesitas
2.   Wanita yang mengalami menstruasi di bawah usia 12 tahun
3.   Wanita yang mengalami menopause di atas usia 50 tahun
4.   Tidak menikah, tidak pernah melahirkan anak dan/atau tidak pernah menyusui
5.   Melahirkan anak pertama sesudah usia 35 tahun
6.   Menggunakan kontrasepsi oral tahunan
7.   Mendapat terapi penggantian hormon setelah menopause
8.   Memiliki anggota keluarga yang mengidap kanker
9.   Pernah mengalami operasi payudara, baik karena tumor jinak maupun ganas

Apa yang harus dilakukan? Berikut adalah anjuran dari American Cancer Society (ACS) untuk para wanita, bahkan kalau mereka tidak mempunyai keluhan apapun :

  1. Wanita > 20 tahun : lakukan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) setiap tiga bulan sekali dan memeriksakan diri ke dokter ahli (Clinical Breast Exam, CBE) setiap 3 tahun sekali
  2. Wanita > 40 tahun : periksakan diri ke dokter ahli dan lakukan mamografi setiap tahun

Meskipun SADARI dinilai berperan kecil dalam mendeteksi adanya pertumbuhan abnormal di payudara, sebaiknya para wanita melakukannya secara rutin untuk mengenali perubahan pada payudaranya, terutama jika terjadi benjolan, pembengkakan, iritasi kulit di sekitar payudara, nyeri pada puting, dan keluar cairan yang tidak normal dari puting. SADARI dapat dilakukan pada 7-10 hari setelah menstruasi dengan cara sebagai berikut :

  1. Berdirilah di depan cermin dengan bagian dada terbuka, dengan lengan berada di samping menekan paha, amati dan bandingkan kedua payudara serta bentuk puting Anda. Lakukan pengamatan sekali lagi dengan mengangkat kedua lengan di atas kepala. Apakah ada keanehan?
  2. Berbaringlah dengan satu tangan (tangan kanan jika hendak memeriksa payudara sebelah kanan) dibawah kepala, lalu dengan 3 jari paling tengah rabalah seluruh payudara, memutar dari atas ke bawah, kemudian dari pusat ke tepi. Berikan tiga tingkatan tekanan, dari tekanan yang ringan hingga ke tekanan yang berat sampai Anda hampir dapat meraba tulang dada.

Jika Anda menemukan abnormalitas baik dari bentuk maupun ukuran payudara, konsultasikan segera ke dokter Anda. Jika sang dokter mencurigai hal yang sama pada pemeriksaan klinisnya, biasanya Anda yang berusia diatas 40 tahun diminta melakukan mamografi. Pada wanita yang lebih muda serta ibu hamil dan menyusui, kepadatan payudara seringkali menjadi gangguan dalam interpretasi hasil mamografi. Pada kalangan usia ini, USG dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) lebih dianjurkan. Namun karena harganya yang mahal, MRI lebih banyak dilakukan pada kelompok pasien resiko tinggi. Mamografi sendiri hanya dapat menunjukkan adanya massa abnormal, tanpa memberi informasi mengenai kemungkinan massa itu bersifat kanker. Untuk memastikan, dapat dilakukan USG dan biopsi jaringan dengan menggunakan jarum kecil atau pompa vakum yang biasa digunakan ibu menyusui. Hasil biopsi ini akan diamati di bawah mikroskop untuk melihat ada tidaknya sel abnormal yang bersifat kanker.

Cemas menunggu hasil pemeriksaan? Berdasarkan statistik, hanya 2-4 dari 1000 mamogram merujuk ke diagnosis kanker, dan hanya 10% dari yang terdiagnosis ini membutuhkan uji lebih lanjut seperti biopsi, dengan 80% hasil biopsi tidak menunjukkan adanya kanker.

Jika hasil biopsi menunjukkan adanya kelainan jinak, tanyakan mengenai pengobatan terbaik yang bisa Anda dapatkan serta kemungkinan kembalinya penyakit di masa depan. Jika hasil biopsi menunjukkan kabar buruk, tidak perlu tergesa-gesa, mintalah pendapat dokter kedua, ketiga, atau keempat jika perlu, serta anjuran terapi dari semua pihak, termasuk teman-teman dan keluarga.

Satu yang pasti, sehatkan hidup Anda dan SADARI sejak dini.

penulis: 
referensi: 

American Cancer Society, How is Breast Cancer Diagnosed, 2009 (http://www.cancer.org/docroot/CRI/content/CRI_2_4_3X_How_is_breast_cancer_diagnosed_5.asp?rnav=cri)

DiPiro, Joseph T. , R. L. Talbert, G. C. Yee, G.R. Matzke, B.G Wells, L.M. Posey (ed), 2005, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, 6th edition, The McGraw-Hill Companies, Inc.

Hollingsworth, Alan B., S.E. Singletary, M. Morrow, D. S. Francescatti, J. A. O'Shaughnessy, A-R. Hartman, B. Haddad, F. R. Schnabel, V. G. Vogel, 2004, Current comprehensive assessment and management of women at increased risk for breast cancer , The American Journal of Surgery  Vol. 187(3): 349-362

Sutjipto, Permasalahan Deteksi Dini dan Pengobatan Kanker Payudara (http://www.dharmais.co.id/new/content.php?page=article&lang=en&id=17)

Syndicate content