Ibu Hamil

BUMIL Dan BUSU

4
Your rating: None Average: 4 (1 vote)

Mual, muntah, migrain, konstipasi adalah gejala yang sering dirasakan oleh Ibu Hamil (Bumil) dan Ibu Menyusui (Busu). Ibu menimbang antara rasa sakit dan ketakutan terjadi sesuatu pada buah hati. Apa yang harus dilakukan pada saat gejala-gejala tersebut terasa?

Selamat! Anda akan jadi Ibu! Ucapan itu tentu membuat hati riang dan mata berbinar, tak sabar menunggu menit-menit pertumbuhan makhluk mungil di dalam rahim Anda. Namun, awal-awal penantian ini tak jarang harus dilewati dengan penuh perjuangan, mulai dari mual, hingga muntah dan migrain. Mengapa gejala-gejala itu terjadi dan bagaimanakah cara mengatasinya? Berikut ulasan singkatnya.

 

 

 

1. Mual
Ibu hamil umumnya mulai merasakan mual pada minggu keenam kehamilan. Rasa mual ini kemungkinan terjadi akibat peningkatan konsentrasi hormon dalam darah (estrogen, progesteron, human chorionic gonadotropin, dan hormon tiroid), perubahan fungsi sistem saraf yang menyebabkan gangguan pencernaan, ataupun faktor lingkungan. Gejala mual dan muntah ini sering disebut morning sickness, meskipun dalam kenyataannya dapat terjadi sepanjang hari. Namun tenang saja, rasa mual ini akan menyurut saat kehamilan telah menginjak usia 12-18 minggu. Tidak tahan menunggu selama itu? Sebelum berpikir tentang obat, Anda sebaiknya mengatur pola makan dan gaya hidup keseharian Anda. Daripada porsi besar dalam sekali makan, cobalah makan dalam porsi kecil namun sering disertai dengan suplemen yang mengandung vitamin B kompleks. Selain itu, hindari kafein dan makanan berlemak yang dapat memicu kembali rasa mual. Terapi akupunktur dan akupresur ringan juga diketahui dapat mengurangi timbulnya gejala khas kehamilan ini. Jika cara ini belum juga membantu, antihistamin seperti dimenhidrinat (Antimo, Antimab) terbukti dapat mengatasi mual dan tidak ditemukan bersifat toksik untuk ibu hamil. Pendekatan herbal pun tak kalah ampuh, seduhan jahe hangat dengan kandungan gingerolnya sebagai antimual dapat juga Anda coba.

2. Sakit Kepala
Sakit kepala yang dialami wanita hamil dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok yaitu migrain, tension headache (nyeri kepala tipe tegang, NKTT), dan sakit kepala sekunder akibat penyakit lain. Migrain terjadi pada 70% ibu hamil, dan umumnya muncul pada awal serta akhir kehamilan menjelang kelahiran. Peningkatan konsentrasi hormon lagi-lagi diduga sebagai penyebabnya. Penderita NKTT umumnya lebih kesusahan saat hamil, karena gejalanya lebih meradang. Pada migrain dan NKTT yang tidak tertahankan, asetaminofen (Panadol, Pamol, Sanmol) menjadi pilihan bagi bumil. Namun sebelumnya, usahakan Anda dapat berolahraga ringan, misalnya yoga, untuk melemaskan otot-otot sekitar leher, terutama untuk NKTT yang lebih disebabkan karena faktor psikologis dan ketegangan saraf.

3. Konstipasi
Para ibu hamil sering mengalami kesulitan buang air besar (konstipasi) terutama saat awal kehamilan. Hal ini dapat terjadi antara lain karena perubahan pola makan, asupan cairan, serta transit hasil pencernaan yang lebih lama di usus akibat perubahan hormonal. Jangan segera melirik obat, karena perubahan gaya hidup sang ibu sudah dapat mengatasinya. Tambahan asupan cairan dan serat ditambah dengan aktivitas fisik ringan dapat memperlancar BAB. Suplemen serat dapat ditambahkan jika ibu sulit beraktivitas. Jika kondisi ini berlanjut, bisakodil (Dulcolax, Stolax) dianjurkan sebagai obat pilihan, terutama dalam bentuk supositoria. Namun, penanganan dengan obat untuk mencegah konstipasi sebaiknya tidak dilakukan secara rutin.

Bagaimana dengan ibu menyusui? Secara umum, meskipun sebagian besar obat akan terdistribusi ke air susu, hanya pada kondisi tertentu saja sang ibu diharuskan berhenti menyusui. Para ibu lebih baik memilih obat yang aman daripada menghentikan ASI bagi bayinya. Untuk obat yang diminum sekali sehari, ibu sebaiknya mengkonsumsinya sebelum tidur karena rentang antar waktu menyusui lebih panjang di waktu malam. Untuk obat yang diminum lebih dari sekali sehari, ibu dapat meminumnya segera setelah jadwal menyusui untuk memperpanjang jarak antara minum obat dengan jadwal menyusui berikutnya.

Jadi, jangan khawatir lagi atas serangan gejala yang tidak diinginkan, ada obat yang dapat Anda pilih dalam masa kehamilan maupun menyusui. Namun jangan lupa, selalu konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau apoteker untuk memperoleh obat yang aman dengan informasi yang lengkap untuk Anda.

penulis: 
Syndicate content